Film

“Sepuluh Meter”: Berdamai dengan Kegelisahan

Film Sepuluh Meter ini merupakan persembahan OCBC NISP sebagai bagian dari rangkaian #NYALAkanHati, gerakan yang bertujuan untuk menginspirasi Indonesia bergerak maju menjaga kesehatan mental

Foto-foto: Dok Youtube Bank OCBC NISP

Pandemi Covid-19 yang masih belum diketahui kapan berakhirnya menghadirkan kegelisahan bagi banyak orang. Apalagi dengan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang mengharuskan kita melakukan berbagai aktivitas di rumah saja dirasakan sangat menekan bagi bagian orang.

Seperti yang dialami pekerja seni Ringgo Agus Rahman. Mencermati berbagai informasi seputar Covid-19 justru membuatnya merasa semakin tertekan. Akhirnya, ia mencoba menghubungi teman baiknya, Nirina Zubir.

Mereka bertukar kabar. Ringgo mengaku, badannya sih sehat-sehat saja. Tetapi, mental yang dirasanya kurang baik.

Foto-foto: Dok Youtube Bank OCBC NISP

“Gue dalam situasi sekarang lagi sibuk ngejaga pikiran gue gimana biar tetap waras,” cetus Ringgo. “Lama-lama kayak begini, gue bisa gila.”

Saat Nirina bertanya, bukannya Ringgo termasuk “kaum rebahan” yang gemar bermalas-malasan, Ringgo mengelak. “Dulu itu menjadi pilihan, tapi sekarang lebih ke ancaman.” Ya, apa yang semula dianggap menyenangkan bahkan dalam situasi Covid-19 ini berubah menjadi sebaliknya.

Kegelisahan kita

Percakapan Ringgo dan Nirina itu terekam dalam film pendek bertajuk Sepuluh Meter karya sutradara muda Yandy Laurens. Dalam film sepanjang 21 menit itu, Yandy menampilkan cuplikan percakapan yang dilakukan melalui platform digital, tampilan layar yang sangat akrab bagi banyak orang belakangan ini.

Kegelisahan Ringgo mewakili kegelisahan kita semua di tengah ketidakpastian akibat pandemi Covid-19. Apa yang dicetuskan Ringgo barangkali juga kita alami. Kebosanan, cemas, khawatir, stres, dan banyak lagi. Kita juga merindukan kehidupan normal lama saat terpaksa menjalani situasi yang akhirnya menjadi normal baru.

Mungkin banyak yang akhirnya kini berpikir bahwa lembur atau rapat berkepanjangan di kantor ternyata tidaklah seburuk itu. Paling tidak, sehabis bekerja mungkin masih bisa nongkrong dengan teman-teman karib dan merasakan terjebak di tengah kemacetan lalu-lintas.

Diam di rumah yang semula dianggap menyenangkan, perlahan berubah menjadi sangat menekan. Apalagi jika tumpukan tugas tetap menggunung dan rapat demi rapat terus mengejar. Hanya saja, kini semua melalui platform digital yang ternyata tidak mengenal tidak mengenal batas apapun.

Jika sebelumnya jeda antar rapat bisa diseling setidaknya berjalan berpindah ruangan, kini masih terpaku di tempat yang sama dan hanya berpindah layar. Tidak mungkin untuk menyebut kemacetan lalu-lintas sebagai alasan.

Sebagian juga pasti mencoba mempraktikkan anjuran Nirina, untuk berusaha tetap positif dan mengisi waktu dengan melakukan berbagai hal yang mungkin selama ini sulit dilakukan. Namun, tekanan ketidakpastian—terutama karena tidak tahu kapan semua ini akan berakhir—mendorong kita kembali pada kegelisahan.

Tidak sedikit yang semula mendadak rajin berolahraga atau mengikuti bermacam webinar, perlahan mulai kendor semangatnya. Ya, siapa pun akan merasa tidak nyaman dengan kenormalan baru ini.

Dalam durasi sesingkat itu, Yandy berhasil mengungkap berbagai persoalan banyak orang serta menyampaikan pesan-pesan baik tanpa kesan menggurui. Semua mengalir natural dalam percakapan Ringgo dan Nirina.

#NYALAkanHati

Film Sepuluh Meter ini merupakan persembahan OCBC NISP sebagai bagian dari rangkaian #NYALAkanHati, gerakan yang bertujuan untuk menginspirasi Indonesia bergerak maju menjaga kesehatan mental dengan mengambil langkah-langkah positif untuk mengatasi perasaan cemas, takut, panik dan bosan di tengah masa sulit.

Selain menyimak film, penonton juga bisa mengunjungi https://www.taytb.com/nyalakanhati untuk mendapatkan sejumlah bahan yang bisa membuat kesehatan mental tetap terjaga di masa sulit pandemi Covid-19 ini.

Singkatnya, meski situasi saat ini sulit, bukan alasan untuk berhenti dan meratapi nasib. Film pendek ini dapat menjadi inspirasi dan rangkaian material yang diberikanini sangat bermanfaat. Simak filmnya pada tautan di bawah.

Sutradara:
Yandy Laurens

Produser:
Hernu Rasyid

Pemeran:

Ringgo Agus Rahman, Nirina Zubir, Sabai Morscheck, Ernest Syarif

Durasi:
21 Menit

Rilisan:
Indonesia

Tayang Perdana:
14 Mei 2020

Review overview

Overall7

Summary

7Simak percakapan Ringgo Agus Rahman dan Nirina Zubir yang mewakili kegelisahan kita selama menjalani PSBB di tengah pandemi Covid-19.

Leave a Response