Pagi hari di teras sebuah rumah di Sleman, Yogyakarta, Ira baru saja melepas ayahnya berangkat kerja. Sudah beberapa minggu ini, Ira belajar dari rumah karena adanya wabah virus korona.

Kakeknya Ira, Mbah Hardjo menghampiri. “Kenapa cucu Mbah? Dari tadi diam saja?”

“Ira sedang memikirkan Ayah, Mbah. Kemarin Ayah cerita, kehabisan cairan pembersih tangan. Di toko, stok tidak ada. Mau beli alkohol di apotek juga kosong,” jelas Ira.

Mbah Hardjo berpikir sebentar. “Kalau begitu, sekarang Ira ikut ke apotek Mbah, ya? Mbah mau ke dapur sebentar.”

Ira mengernyitkan dahi. Baru kali ini, ia mendengar mbahnya punya apotek?

Segera ia memakai helm bersiap-siap pergi. Mbah Hardjo muncul membawa baskom, pisau, dan gunting tanaman.

“Oalah, Nduk. Tidak usah pakai helm. Kita cuma mau ke belakang rumah.” Mbah Hardjo menahan tawa. Ternyata apotek yang dimaksud Mbah Hardjo adalah apotek hidup di halaman belakang rumah.

Tiba di halaman belakang, Mbah Hardjo langsung mengajak Ira menuju sebuah tanaman rambat. “Ini namanya sirih, Ira. Bantu memetik daunnya, ya.”

Setelah memetik daun sirih, Mbah Hardjo mengajak Ira memetik buah jeruk nipis, kemangi, dan lidah buaya. Mbah Hardjo dengan dibantu Ira lalu mencuci bersih semua tanaman obat itu.

Di ruang tengah rumah, Mbah Hardjo meminta Ira menggunting daun sirih menjadi kecil-kecil. Sementara itu, Mbah Hardjo mengupas lidah buaya dan memotong kemangi.

Sirih yang sudah dipotong-potong Ira, oleh Mbah Hardjo ditaruh ke dalam mangkuk dan dituang air panas. Setelah itu dimasukkan ke dalam kukusan selama 30 menit. Mbah Hardjo dibantu Ira lalu memblender kemangi dengan sedikit air matang. Kemudian berikutnya lidah buaya juga diblender. Hasil saringan dari kedua bahan itu lalu dicampur dan diaduk di wadah lain.

“Nah, sekarang tinggal dituangkan ke botol semprot. Ira bisa, kan? Mbah mau mematikan kukusan sirihnya dahulu.”

Ira lalu menuang hati-hati cairan campuran kemangi dan lidah buaya ke dalam botol semprot. Satu botol cairan pembersih tangan sudah siap!

Mbah Hardjo kembali dengan air sirih yang sudah disaring. Beliau lalu mencampurnya dengan perasan jeruk nipis. Ira lalu mengaduk campuran air sirih dan jeruk nipis, kemudian memasukkan ke botol semprot kedua. Jadilah cairan pembersih tangan yang kedua!

“Karena semua bahan ini mengandung antibakteri, kita bisa memakainya sebagai pengganti cairan pembersih tangan yang saat ini langka,” kata Mbah Hardjo.

Ira memeluk Mbah Hardjo. Berterima kasih sudah diajari membuat cairan pembersih tangan alami. Ia bisa memanfaatkan waktunya di rumah dengan kegiatan bermanfaat.

Ira merasa senang. Nanti sore saat pulang kerja, Ayah sudah bisa memakai cairan pembersih tangan alami buatannya dan Mbah Hardjo. *

logo baru nusantara bertutur

Oleh Tim Nusantara Bertutur
Penulis: Herdita Dwi R
Pendongeng: Paman Gery (IG: @paman_gery)
Ilustrasi: Regina Primalita

Leave a Response