Sambil memegang ponselnya, raut muka Ayah terlihat murung. “Ada apa, Yah?” tanya Ibu. “Lebaran ini kita tidak mudik. Mobil kita butuh perawatan. Bannya sudah botak. Ayah baru saja mengecek tiket kereta api. Ternyata tinggal kereta ekonomi, itu pun harus transit dulu, tidak bisa langsung sampai ke Yogyakarta. Kasihan anak-anak.”

Mendengar percakapan itu, Senja memeluk Ayah sambil merengek. “Senja pengen ketemu Uti di Yogya, Yah.”

Memang, kondisi ekonomi keluarga mereka sedang tidak baik-baik saja. Jadi, mobil Ayah belum bisa diperbaiki segera.

“Kenapa tidak kita coba, Yah, naik kereta?” kata Bintang lantang.

“Kalian yakin mau naik kereta?” sahut Ibu.

“Kita backpacker saja, Bu. Kan baju kita banyak di rumah Uti. Jadi, tidak perlu bawa koper dan banyak barang.”

“Horeee! Kita jadi ke Yogya!” sahut Senja. Ayah dan Ibu tersenyum setuju.

Libur Lebaran pun tiba. Mereka sekeluarga akhirnya berangkat menggunakan kereta ekonomi. Namun, kali ini, mereka harus turun dan berganti kereta di Stasiun Kutoarjo. Tiba di stasiun Kutoarjo masih pukul 04.00 pagi.

“Kita akan naik kereta lagi nanti pukul 09.00 pagi,” kata Ayah.

“Sambil menunggu, kita jalan-jalan dulu ke pasar, yuk,” ajak Bintang.

“Kita kulineran,” sahut Ibu gembira.

Pagi itu, pasar sudah ramai. Ada yang menjual kulit ketupat dari daun kelapa, jajanan pasar, dan aneka bumbu masak.

“Monggo Cah Bagus, dibeli ini jajanannya Simbok.” Seorang Ibu pedagang paruh baya menawarkan sejumlah makanan di bakul jualannya. “Ini bolen pia, kalau yang ini clorot.”

“Ha-ha-ha…namanya lucu, clorot.”

“Iya, kalo di mulut, langsung melorot ke tenggorokan,” seloroh Simbok.

Kami semua tertawa mendengar candaan Simbok.

“Ini dari tepung beras, ditambah gula jawa,” kata Simbok memperlihatkan kue yang dibungus daun kelapa muda melingkar itu. Benar rasanya enak dan manisnya pas.

“Kalau yang ini apa, Mbok?” tanya ayah menunjuk tumpukan kue berbalut daun pisang berwarna hitam.

“Ooh itu sih arang, Yah,” kata Senja sok tahu.

“Ha-ha-ha bukan Cah Bagus, ini kue lompong Cah Ayu. Dari tepung ketan. Warna hitamnya dari pewarna alami abu merang, batang padi yang dibakar.”

Ayah lalu mengambil satu, “Wah enak ini, ada kacang dan gula merah di dalamnya.”

Senja ikut mencomot kue lompong dari bakul Simbok. “Hmm, enaaak,” katanya.

“Banyak makanan khas di sini yang belum pernah kita coba,” sambung Ibu sambil membeli beberapa kue dagangan Simbok untuk bekal perjalanan Lebaran nanti.

“Ini namanya backpacker membawa nikmat,” kata Bintang riang. Mereka berempat masih asyik menyusuri pasar, sebelum kembali ke stasiun untuk melanjutkan perjalanan. Benar-benar pengalaman baru yang sangat berharga. *

 

logo baru nusantara bertutur

Oleh Tim Nusantara Bertutur
Penulis: Satwika Prabaswara
Pendongeng: Paman Gery (Instagram: @paman_gery)
Ilustrasi: Regina Primalita