Si kecil kadang bisa menangis sejadi-jadinya. Ia seolah mengalami ketakutan luar biasa akan suatu benda atau peristiwa. Inilah yang disebut fobia dan bisa menyerang siapa saja.

Fobia pada orang dewasa diduga telah dipicu sejak kecil. Jika kita jeli melihat kemungkinan tersebut pada buah hati, hal ini akan cukup membantu proses tumbuh kembangnya pada kemudian hari.

Bagaimana cara mengendus si kecil mengalami fobia? Biasanya anak akan bereaksi berlebihan ketika melihat sesuatu atau dalam kondisi yang menjadi sumber rasa takutnya.

Tak jarang juga membuat anak menangis menjerit dan lari menjauhkan diri dari obyek tersebut.  Ada beberapa jenis fobia yang biasa menyerang anak, seperti takut pada kondisi ramai, berada di dalam ruangan sempit, takut gelap, atau takut pada serangga, seperti cecak, kecoak, atau laba-laba.

Uniknya, benda yang dianggap identik dengan dunia anak dan menjadi bentuk hiburan untuk si kecil justru bisa menjadi sumber pemicu rasa takut yang berlebihan. Takut terhadap badut atau balon, misalnya, yang relatif banyak dialami anak.

Fobia juga bisa dipicu adanya pengalaman tidak mengenakkan yang pernah mendera si kecil. Seiring kemampuan kognitifnya yang masih dalam tahap perkembangan, anak-anak biasanya belum bisa membedakan realita dan khayalan. Agar tidak terbawa hingga ia dewasa, orangtua perlu mengatasinya dengan membantu anak menghadapi rasa takutnya. Selain itu, jangan memarahinya.

Mulailah dengan memberi pemahaman sesuai dengan tingkat penalaran anak untuk menjelaskan suatu obyek atau kondisi yang ditakutinya. Jika takut terhadap badut, misalnya, beri penjelasan bahwa di balik topeng itu, sesungguhnya ada manusia biasa yang sedang mencari nafkah untuk keluarganya.

Selain itu, jika anak takut terhadap balon karena kaget dengan letusannya, hal ini bisa disiasati dengan memberi tahu cara bermain balon yang aman. Beri penjelasan bahwa merasa amat kaget saat mendengar balon meletus merupakan hal wajar, yang tak perlu ditakuti atau dihindari.

Namun, bila fobia ini dirasa semakin menjadi dan sulit diatasi oleh orangtua maupun guru di sekolah, tak ada salahnya meminta bantuan dengan berkonsultasi ke psikiater anak atau psikolog. Selalu mengamati berbagai proses perkembangan anak, baik sisi positif maupun negatif, menjadi salah satu usaha mengantarkan anak menuju proses pendewasaan yang berkualitas. [*]