Kota pelabuhan Makassar tak hanya menjadi saksi jutaan kapal yang pernah berlabuh di dermaganya. Namun, juga kerap membuat langkah para pejalan tertahan, untuk sekadar berhenti melangkah dan membiarkan kelima inderanya dimanjakan.

Ratusan tahun sudah, Makassar, ibu kota Sulawesi Selatan, menjadi gerbang Indonesia menuju kawasan timur. Merupakan pelabuhan utama dalam jalur perdagangan menuju Indonesia Timur sejak masa Kerajaan Gowa-Tallo, kala di bawah kolonialisasi Belanda, hingga hari ini. Namun, kini nama Makassar bukan hanya disebut dalam peta jalur perdagangan, tetapi juga menjadi primadona di antara pencinta wisata bahari dan dalam peta kuliner Indonesia.

Terlebih seiring meningkatnya popularitas Kepulauan Takabonerate, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Tak lain merupakan karang atol terbesar ketiga di dunia setelah Kwajifein di Pulau Marshall dan Suvadiva di Pulau Maladewa. Perjalanan menyusuri karang atol itu dimulai dari Makassar menuju Tanjung Bira dan menyeberang ke Pulau Selayar.

Sementara di pusat kota Makassar, kenikmatan berkeliling pulau juga tetap bisa dirasakan tanpa membutuhkan banyak tenaga dan waktu. Dari Pelabuhan Kayu Bangkoa, bisa menyeberang ke Pulau Samalona, Khayangan, Barrang Lompo, Lae-lae, atau ke Kodingaren Keke. Dan di antara setiap perjalanan menjelajah ini, akan selalu ditemani ragam menu lezat yang menjadikan Sulawesi Selatan disebut-sebut sebagai salah satu surga makanan di Indonesia.

Sarat protein

Khas area pesisir, Sulawesi Selatan menampilkan aneka hidangan laut. Racikan hidangan laut ini bisa ditemui mulai dari kudapan hingga makanan utama. Awali dengan otak-otak ikan khas Makassar. Ukurannya lebih besar, adonannya terasa lembut, dan rasa gurih ikan tenggirinya terasa di tiap gigitan. Biasa disajikan di berbagai restoran seafood, otak-otak ini pun menjadi salah satu jenis oleh-oleh yang biasa dibawa pelancong pulang dari Makassar.

Di sini pulalah surga bersantap kepiting, udang, dan beragam jenis ikan yang disajikan segar dengan bumbu-bumbu kaya rempah. Salah satu andalan di sini adalah ikan bakar Parape. Dibakar hampir tanpa bumbu, daging ikan terasa begitu segar dan mengeluarkan cita rasa gurihnya. Kelezatannya memang terletak pada kesegaran ikan lautnya. Saus parape sendiri terasa pedas manis, menambah kenikmatan rasa.

Konro dan coto Makassar termasuk yang sudah populer di berbagai tempat di Indonesia dan memiliki banyak penggemar. Konro identik dengan sajian iga sapi yang dihidangkan dalam potongan besar, orang tak segan memegang langsung potongan iga itu demi menggigit potongan demi potongan. Konro dimasak dalam dua jenis.

2007-langgam-wisata_6
2007-langgam-wisata_7
2007-langgam-wisata_8
2007-langgam-wisata_9
2007-langgam-wisata_1
2007-langgam-wisata_3
2007-langgam-wisata_4
2007-langgam-wisata_5

Racikan tradisionalnya tak lain sop konro, dengan kuah sop yang segar paduan jahe, lengkuas, kayu manis, dan cengkeh. Versi modernnya, menyesuaikan perkembangan zaman, dimasak dengan cara dibakar lalu dipadu bumbu kacang dan kuah sop. Biasa disantap bersama burasa atau ketupat, menyantap konro di daerah asalnya adalah sebuah kewajiban.

Sementara coto Makassar masih dalam satu kelompok khasanah sop yang punya banyak variasi di tiap daerah di Indonesia. Biasanya menggunakan daging sapi atau kerbau, tetapi kini coto kuda juga mulai populer. Berawal dari daerah Jeneponto, konon coto kuda dulu hanya dihidangkan untuk raja atau bangsawan. Memiliki tekstur yang lebih lembut, coto kuda kini semakin banyak dijumpai di luar wilayah Jeneponto.

Serupa tapi tak sama, Pallubasa menawarkan kenikmatan bersantap hidangan hangat dalam racikan kuah yang segar. Gore kaluku atau kelapa goreng dan kuning telur ayam kampung memperkaya rasa gurih dari potongan daging sapi atau kerbau.

Ada banyak hidangan yang perlu dicoba, pastikan kegiatan menjajal rasa ini Anda selipkan dalam agenda perjalanan mengelilingi Sulawesi Selatan. [ADT]

Foto-foto Tommy B. Utomo

Artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 19 Juni 2017