Perkembangan dunia digital turut menggerakkan sistem pendidikan ke ranah daring (on-line). Kini, kita mengenal istilah belajar on-line. Keberadaan “kelas” tanpa tatap muka secara langsung ini memudahkan proses pembelajaran dan bisa diakses di mana saja.

Kelas on-line merupakan suatu pembelajaran yang dilakukan secara elektronik dengan menggunakan media berbasis komputer serta sebuah jaringan. Kelas on-line dikenal juga dengan istilah pembelajaran elektronik, seperti e-learning, on-line learning, internet-enabled learning, virtual learning, dan yang terkini adalah web-based learning atau webinar.

Melansir www.umy.ac.id, Program Manager of Social Innovation Group–CISCO System Indonesia Adri Gautama menyampaikan implementasi dari metode webinar telah dilakukan oleh beberapa perguruan tinggi di Indonesia. Kemudahan akses internet saat ini menjadi alasan beberapa perguruan tinggi memanfaatkan metode tersebut. Ditambah lagi penggunaan webinar selain dapat diakses melalui komputer atau laptop, dapat juga dilakukan dengan smartphone. Dengan kapasitas internet 256 Kbps, sudah dapat mengakses seminar atau perkuliahan melalui jarak jauh dengan memanfaatkan internet.

 Seminar tanpa tatap muka
Selain kalangan akademisi, webinar memberikan manfaat di dunia bisnis. Seperti yang dilakukan oleh Rainbow Castle, klinik psikologi anak berbasis bermain yang pertama di Indonesia. Melalui webinar, Rainbow Castle berbagi informasi tentang parenting dan tumbuh kembang anak bagi siapa pun tanpa terkendala jarak.

“Pertama kali kami mencoba webinar pada 2015. Alasannya, waktu itu banyak orangtua yang berasal dari luar Pulau Jawa seperti Kalimantan dan Sulawesi menginginkan kami menggelar seminar tentang parenting dan tumbuh kembang anak di daerah mereka. Namun, saat itu, tidak memungkinkan kami ke sana. Karena waktu itu saya sebagai salah satu pengurus Rainbow Castle baru saja melahirkan anak pertama dan Devi Raissa yang juga pengurus Rainbow Castle sedang merintis usaha bukunya, yakni Rabbit Hole. Kami berdua sama-sama sibuk sehingga kami mencari-cari cara dan akhirnya kami ketemu cara ini untuk mengakomodasi kebutuhan para orangtua tersebut,” kenang Devi Sani MPsi.

Bukan perkara mudah untuk mengadakan webinar. Devi mengisahkan, pertama kali mengadakan webinar, mereka banyak dikomplain oleh peserta karena webinar berjalan tidak lancar, seperti terputus di tengah-tengah bahkan terputus sama sekali ketika seminar on-line sedang berlangsung.

“Di awal-awal, kami sempat mengembalikan dana para peserta webinar karena mereka tidak dapat apa-apa. Oleh karena itu, tidak berapa lama kemudian setelah evaluasi kami ganti provider webinar. Kami cari-cari yang juga memberikan fasilitas rekaman, sehingga ketika webinar tidak diterima dengan baik masih ada rekamannya yang bisa kami kirimkan untuk para peserta,” terang lulusan Psikologi Universitas Padjadjaran, Bandung, ini.

Untuk dapat mengikuti webinar Rainbow Castle, peserta dapat bergabung dengan membayar biaya Rp 33.000. Biasanya akan berlangsung pada akhir pekan, Sabtu atau Minggu pukul 9–10 pagi. Sejauh ini, Rainbow Castle telah mengadakan 70 judul webinar.

Kini update ilmu parenting bisa di mana saja dan kapan saja. Tanya jawab juga dapat dilakukan melalui aplikasi chat yang tersedia sehingga peserta tidak hanya dijejali beragam informasi mengenai parenting, tatapi juga diajak untuk berbagi informasi.

Kelas daring

Tak berbeda jauh dengan Rainbow Castle, Siska Oetami, salah satu pendiri Clevio, startup kursus pemrograman gim (game) atau coding untuk anak ingin mencoba menghadirkan kelas daring. Meski belum dimulai, Siska memaparkan bahwa kelas daring menjadi salah satu solusi modern saat ini yang dapat memenuhi kebutuhan informasi dan ilmu pengetahuan sesuai dengan peminatnya tanpa harus datang ke kelas sebenarnya.

“Untuk menghadirkan kelas on-line, Clevio masih dalam proses pembelajaran, penggodokan karena apa yang kami ajarkan ke anak-anak ini sifatnya lebih ke arah tutorial sehingga anak-anak perlu secara langsung hadir di kelas. Kami masih mencari bahan-bahan pengajaran apa yang bisa kami bagikan via kelas on-line,” terang Siska.

Siska bercerita, kedua anaknya bersekolah dengan sistem home schooling yang juga sering bergabung ke dalam kelas daring dalam dan luar negeri untuk mengembangkan pengetahuan mereka.

“Anak saya yang pertama, Neo, saat ini duduk di kelas 1 SMA. Dia sering kali gabung kelas on-line dari negara lain. Seperti saat ini, Neo sedang bergabung kelas on-line dari AS yang membahas tentang teori relativitas Einstein dan teknologi. Ini sangat bermanfaat karena kalau menghadiri kelasnya secara langsung di Indonesia mungkin belum ada yang membahas hal ini. Dan, Neo bisa mendapat pengetahuan yang sesuai dengan minatnya melalui kelas on-line yang dia ikuti. Di kelas on-line ini ada forumnya juga sehingga masing-masing peserta dapat saling berbagi dan tanya jawab,” jelas Siska.

Belajar secara daring memang menjadi pilihan solutif untuk keperluan pertemuan pada era digital. Saat banyak orang tidak selalu bisa berada di suatu tempat dan karena keterbatasan waktu, pertemuan via dunia maya bisa dilakukan. Namun, tentu hal ini harus dipersiapkan dengan baik.

“Bukan hanya asal berbagi informasi, tetapi kami juga harus mempelajari bagaimana caranya enganged dengan para peserta webinar melalui on-line. Karena kami tidak bisa melihat satu per satu peserta, strategi-strategi komunikasi tertentu harus dilakukan agar kami juga tahu bagaimana respons para peserta ketika bergabung dengan webinar yang diadakan,” ungkap Devi. [ACH]

Artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 10 April 2017

Foto-foto Shutterstock.