Beberapa waktu yang lalu, ketika Jakarta belum semacet sekarang, sebagian besar masyarakat mungkin memandang miris pada mereka yang menggunakan transportasi umum untuk menuju atau pulang dari tempat kerja. Maklum saja, bus atau kereta yang kotor diseraki sampah, bau tidak sedap yang menyebar, serta padatnya penumpang tanpa ada penyejuk udara, membuat mereka terlihat begitu merana. Tidak heran jika pada akhirnya banyak yang enggan menggunakan transportasi umum, kecuali terpaksa.

Namun, kini, banyak yang lebih memilih naik transportasi umum ketimbang naik kendaraan pribadi. Lebih nyaman, aman, dan tentunya murah. Setidaknya hal itulah yang dirasakan Maggie (37) akan transportasi umum yang dinaikinya. Sebelum menggunakan KRL Commuter Line, Maggie yang bertempat tinggal di Percetakan Negara, Jakarta, selalu menggunakan mobil atau ojek jika harus mengejar waktu menuju kantornya di bilangan Kalibata, Jakarta Selatan. Selain biaya yang dikeluarkan lebih mahal, ia kerap harus menahan emosi ketika menghadapi macet di Jakarta yang menurut Maggie kian menggila.

Klasikamus:

Transjakarta atau lebih dikenal dengan istilah “Busway” mulai dioperasikan pada 15 Januari 2004 dan merupakan program unggulan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk pengembangan transportasi publik berbasis bus. Transjakarta merupakan pionir reformasi angkutan umum yang memprioritaskan kenyamanan, keamanan, keselamatan dan keterjangkauan bagi masyarakat.

Dua tahun belakangan ia pun mencoba menggunakan jasa KRL. Berangkat dari Stasiun Kramat, ia pun menuju Stasiun Duren Kalibata kurang dari 1 jam. “Paling sekitar 40 hingga 50 menit. Keretanya nyaman dan bersih. Kadang saya sampai tertidur di kereta. Karena arus balik, sering kali kereta yang saya naiki kosong,” ujarnya.

Maggie pun mengakui ada banyak biaya yang bisa ia hemat dengan menggunakan transportasi umum. Jika dulu ia dan suami memiliki dua mobil sebagai sarana transportasi, kini mereka hanya memerlukan satu mobil untuk dipakai jalan-jalan bersama anak-anak pada akhir pekan.

Apa yang dialami Maggie juga dirasakan Retno (40). Retno sudah sepuluh tahun ini menggunakan jasa transjakarta, sejak berkantor di Jalan Sudirman hingga kini berkantor di kawasan Kuningan, Jakarta. Dulu, sekretaris sebuah perusahaan multinasional ini selalu menggunakan taksi untuk menuju kantor dan pulang ke rumah. Keamanan menjadi alasan utamanya enggan menggunakan transportasi umum. Belakangan, ketika transjakarta beroperasi, ia pun mulai memberanikan diri menggunakan transportasi umum tersebut.

Retno merasa transjakarta cukup nyaman sebagai transportasi umum yang mengantarnya menuju dan pulang kantor. Terlebih lagi, tempat tinggalnya dekat sekali dengan pemberhentian terakhir di Ragunan. “Setelah menggunakan transjakarta, ternyata tidak hanya nyaman dan bebas macet, tetapi juga ada banyak rupiah yang bisa saya simpan. Bahkan, dari penghematan biaya transportasi, kini saya jadi bisa lebih sering berlibur ke berbagai tempat,” ujar perempuan yang hobi traveling ini.

Maggie dan Retno hanyalah sebagian contoh kecil mereka yang merasa puas menggunakan transportasi umum seperti KRL dan transjakarta. Tidak dapat dimungkiri masih ada keterbatasan dan kekurangan pada moda transportasi umum di Jakarta. Pada jam-jam sibuk pulang kantor, moda transportasi umum masih dirasa kurang jumlahnya. Hal ini terlihat dari sesaknya penumpang untuk KRL tujuan Depok, Bogor, atau Serpong, dan Parungpanjang. Belum tertibnya penumpang juga terkadang membuat calon penumpang lainnya merasa enggan menggunakan transportasi umum.

Meskipun demikian, masih banyak yang mengandalkan transportasi umum, contohnya Ayu (28). Ia lebih memilih berdesak-desakan menaiki KRL jurusan Depok atau Bogor untuk menuju rumahnya yang berada di Tanjung Barat ketimbang naik mobil dan terjebak dalam kemacetan Jakarta yang seolah tiada akhir.

“Mendingan desak-desakan naik kereta Mbak, daripada naik mobil. Nyampe-nya lama banget. Kalau bisa sih keretanya ditambah lagi, jadi kita lebih nyaman dan nggak perlu desak-desakan,” ujarnya lagi.

Tidak bisa dimungkiri jika di beberapa ruas jalan Jakarta, moda transportasi masih dirasa kurang jumlahnya, sehingga beberapa karyawan yang takut terlambat masuk kerja lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi. Jika saja jumlah kendaraan umum yang nyaman dan bersih sudah seimbang dengan jumlah penumpang, mungkin hal tersebut bisa menjadi solusi kemacetan di Jakarta. Bagaimana dengan Anda?  [AYA]

noted: asyiknya naik transportasi umum

foto: shutterstock