Arloji adalah seni. Ini semacam kredo yang diamini para pembuat arloji di Barat sejak puluhan tahun silam. Betapa tidak, menyatukan komponen-komponen yang amat kecil hingga bisa bergerak menunjukkan waktu secara tepat adalah keterampilan yang bukan main-main.

Tak cukup hanya bekerja sebagai “mesin waktu”, perangkat ini kemudian didesain sedemikian rupa dengan bahan-bahan berkelas sehingga menjadi aksesori multifungsi yang cakap dalam mematut penampilan seseorang. Ini jelas membutuhkan selera seni yang tinggi.

Para pembuat arloji sering bereksperimen menciptakan penunjuk waktu yang menegaskan perbedaan mereka dengan yang lain. Mereka bahkan acap terlihat tak peduli apakah produknya akan disukai pasar atau tidak. Malah ada pula yang rela menghabiskan banyak waktu sekadar untuk menciptakan sebuah arloji yang barangkali tiada duanya.

36 fungsi

Dok.franckmuller.com

Baca juga : 

Salah satu produsen arloji yang gemar melakukan percobaan adalah Franck Muller. Mereka menyebut diri dan produk jam tangannya sebagai The Master of Complication. Satu karya uniknya, diluncurkan pada 2010. Itu berupa arloji dengan fungsi terbanyak di dunia. Jam tangan yang hanya dibuat satu buah itu diberi nama Aeternitas Mega 4.

Dok. franckmuller.com

Aeternitas Mega 4 dirancang dengan 36 jenis fungsi, mulai dari tourbillon, kalender otomatis, kronograf, minute repeater, hingga sistem penanggalan. Arloji ini mengandung 1.483 komponen dengan kalender otomatis (perpetual) selama seribu tahun. Arloji ini diklaim sebagai mimpi para pembuat jam dan pencinta arloji yang jadi kenyataan. Sebab, hampir semua fungsi jam berhasil disatukan dan menghiasi pergelangan manusia.

Pembuatan Aeternitas Mega 4 membutuhkan waktu lima tahun. Karya unik Franck Muller ini akhirnya jatuh ke tangan kolektor jam asal AS, yang menebusnya dengan harga 2,7 juta dollar AS.

Batu rubi

 

Nah, di dalam mesin jam tangan papan atas juga disematkan batu mulia, yakni rubi. Permata ini berguna untuk meningkatkan kinerja mesin penunjuk waktu tersebut. Batu mulia bekerja untuk menahan atau mengurangi gesekan antarkomponen mesin penggerak (movement) yang terjadi secara konstan.

Movement konvensional maupun yang bekerja otomatis dapat memiliki banyak batu permata, tergantung dari fitur apa saja yang diusung arloji tersebut. Beberapa sumber menyebutkan, arloji IWC Il Destriero Scafusia memeram hingga 76 butir rubi untuk mendukung kinerja penunjuk waktu, kalender, repeater, tourbillon, dan chronograph. Tak pelak, arloji ini mendapat julukan sebagai jam tangan paling rumit.

Lalu, apakah semakin banyak permata yang dicangkokkan pada mesin arloji, dapat meningkatkan kinerja jam itu? Sejumlah kolektor arloji menjawab, “Belum tentu.”

“Malah ada pula yang rela menghabiskan banyak waktu sekadar untuk menciptakan sebuah arloji yang barangkali tiada duanya.”

Karakteristik arloji movement manual saat ini hanya memerlukan 17 butir permata. Beberapa merek arloji kelas atas atau yang movement-nya didesain amat tipis, cuma membutuhkan 21-13 butir permata. Itu pun sudah ditujukan untuk meningkatkan kualitas dan memperkokoh konstruksi.

Pada tahun ’70-an, pasar arloji pernah dihebohkan beberapa merek jam yang mengusung permata dalam jumlah besar. Saat itu, konsumen masih menganggap semakin banyak rubi yang dipasang, semakin bagus dan mahal pula arloji itu.

Anggapan itu tidak salah pada masanya, sebab kala itu rubi yang digunakan adalah asli. Namun, saat ini, sebagian besar arloji menggunakan rubi sintetik atau korundum. [*]

Tyas Ing Kalbu
penulis yang disayang Tuhan

1 Comment

Leave a Response