Jajanan pasar khas Jawa bisa dikatakan sebagai makanan yang tak lekang oleh waktu. Dari zaman dulu sampai sekarang, masih tetap eksis. Jawa bisa dikatakan sebagai salah satu wilayah yang punya jajan pasar bervariasi.

Walaupun muncul makanan-makanan dari luar negeri yang menjadi camilan, jajanan pasar khas Jawa ini tetap diminati. Penggemarnya pun tidak hanya orang Jawa, tetapi juga dari asal yang lain. Selain itu, popularitasnya tetap terjaga karena mudah didapatkan dan murah harganya.

Ngomong-ngomong soal jajanan pasar khas Jawa, Kompas Klasika merangkum beberapa jajanan pasar khas Jawa yang autentik dan susah digantikan oleh makanan lain.

1. Wajik

Wajik

Makanan yang satu ini sangat populer di masyarakat Jawa. Wajik tidak hanya bisa dijadikan camilan. Makanan ini biasanya disajikan juga untuk acara pernikahan. Filosofinya, teksturnya yang lengket menjadi harapan agar kedua mempelai tetap bersama hingga akhir hayat.

Makanan ini terbuat dari beras ketan, santan, dan gula jawa. Rasanya manis sekali. Oleh karena itu, orang yang tidak terlalu doyan manis pekat biasanya tidak terlalu menyukainya.

2. Gethuk

Jajanan pasar khas Jawa ini juga cukup dikenal oleh orang banyak. Makanan berbahan dasar singkong ini punya rasa manis dan sedikit gurih yang khas. Beberapa pengamat mengatakan, gethuk tercipta karena pada zaman penjajahan Jepang, beras sangat langka, jadi masyarakat Magelang menggantinya dengan singkong.

Seiring perkembangan zaman, inovasi gethuk pun beragam. Sekarang, gethuk tidak hanya disajikan dengan cara dikukus saja, tetapi juga digoreng. Magelang sendiri terkenal sebagai Kota Gethuk.

3. Jenang

Jenang sudah terkenal sejak era kerajaan Hindu-Buddha. Makanan yang terbuat dari beras putih dan beras ketan ini sering dijadikan makanan pendamping untuk berbagai hajatan pernikahan, sunatan, selamatan ibu hamil, dan acara adat-keagamaan lainnya.

Bagi masyarakat Jawa, jenang dilambangkan sebagai doa persatuan, harapan, dan semangat masyarakat Jawa. Jenang sendiri punya banyak bentuk, mulai dari jenang sumsum, jenang abang, jenang ireng, sampai jenang dodol ketan.

4. Cenil

Hampir mirip dengan klepon, bedanya cenil hadir dengan warna-warni. Bahannya pun berasal dari tepung kanji dan dibentuk lonjong-lonjong. Cenil punya rasa manis bukan dari gula merah, melainkan gula pasir.

Cenil biasanya disajikan dengan parutan kelapa. Biasanya cenil tidak hanya dihadirkan sendiri, tetapi juga dengan jajan pasar yang lainnya. Rasanya pun unik, manis gula bercampur dengan gurih dari kelapa dan punya tekstur kenyal.

5. Coro Bikan

Jajanan pasar ini juga dikenal dengan nama kue coro. Biasanya kue ini disajikan dalam tiga warna, yaitu merah, putih, dan hijau. Ketiga warna ini punya makna perwujudan seorang manusia.

Merah berarti keberanian membela kebenaran, putih artinya kesucian dan hati yang bersih, dan hijau bermakna manusia harus menjalankan kewajibannya selama masih hidup. Kue ini bentuknya cukup unik seperti bunga yang mekar berwarna merah.

6. Arem-arem

Sajian jajanan pasar khas Jawa ini sangat populer dan sudah menjadi lazim untuk dijadikan suguhan atau camilan. Berbentuk mirip lemper, arem-arem punya perbedaan mendasar yaitu menggunakan bahan dasar nasi pulen dan rasanya pasti gurih serta bentuknya lebih besar.

Isi arem-arem bisa beragam dan konon bisa disesuaikan dengan tingkat ekonomi konsumen. Di kampung, arem-arem biasanya berisi kentang dan wortel, tapi di kota ada yang berisi cacahan daging sapi atau ayam.

7. Kue Mendut

Kue ini terinspirasi dengan cerita rakyat Roro Mendut. Kue mendut sendiri biasanya terbuat dari tepung beras dan diisi gula merah dan parutan kelapa di dalamnya. Biasanya disajikan dengan kuah santan kental dan dibungkus daun pisang.

Kue mendut sampai sekarang masih disajikan dalam berbagai acara selamatan atau pernikahan orang Jawa dengan adat tradisional. Walaupun demikian, kue mendut juga bisa didapatkan di berbagai pasar untuk dibeli dan dijadikan camilan sehari-hari.

Nah, kamu suka jajanan pasar khas Jawa yang mana?

1 Comment

Leave a Response