Pada era digital, persaingan bisnis travel semakin ketat. Kompetisi yang terjadi bukan lagi dengan sesama penyedia jasa travel, melainkan antara mereka dan konsumennya sendiri.

Hal tersebut disampaikan Waizly Darwin, pendiri Pulaubahagia.com, dalam sebuah seminar di Jakarta, Senin (12/2). Mantan SMB Lead Facebook Indonesia tersebut menuturkan, dengan bantuan teknologi, konsumen kini bisa menyusun rencana perjalanan sendiri. Oleh sebab itu, penyedia jasa travel harus mengetahui keinginan dan perilaku konsumen.

“Konsumen zaman sekarang butuh tiga hal, yaitu waktu, uang, dan kebebasan. Jika salah satu dari 3 hal tersebut tidak ada mereka akan galau. Penyedia jasa travel harus memanfaatkan hal ini,” ujar Waizly.

VR

Waizly menceritakan tentang peluang-peluang bisnis yang bisa dimanfaatkan penyedia jasa travel. Peluang pertama yaitu travel plus teknologi. Sekitar tahun 1990-an, orang terbiasa membagikan pengalaman berliburnya melalui teks dan foto. Seiring berjalannya waktu, era video mulai diminati. Kini, orang lebih suka membagikan pengalaman berliburnya via video.

Setelah video, teknologi apa lagi yang akan diminati para konsumen? Melihat tren belakangan ini, virtual reality (VR) layak dipertimbangkan. Menurut Waizly, bicara travel, berarti kita bicara tentang pengalaman. VR akan menjadi the next big thing yang menakutkan bagi bisnis travel.

“VR memungkinkan konsumen bisa traveling without moving. Ketika ingin melihat seperti apa keindahan Kota Paris di Perancis, cukup mengenakan VR, mereka bisa langsung seolah-olah ada di sana. Dua tahun ke depan akan banyak pelaku industri yang menggunakan teknologi ini,” prediksi Waizly.

Sebagai gambaran, penyedia jasa travel bisa menggunakan teknologi VR untuk memberikan user experience baru kepada konsumen. Misalnya, konsumen bisa menggunakan VR untuk masuk ke dunia virtual. Lalu, mereka bisa memilih akan berlibur ke mana dengan menekan semacam hologram tempat wisata yang ada di dunia virtual tersebut.

Digital nomad

Peluang kedua yang bisa dilirik penyedia jasa travel yaitu travel sembari bekerja. Istilah ini dikenal juga dengan digital nomad (nomaden). Para digital nomad yaitu para pekerja yang profesinya tidak terikat dengan tempat. Mereka bisa bekerja dari mana saja, misalnya dari pantai atau gunung, selama ada jaringan internet. Peluang ini bisa ditangkap para penyedia jasa travel dengan menyediakan semacam paket wisata berlibur sekaligus bekerja untuk para digital nomad.

Peluang ketiga yang bisa dimanfaatkan yaitu kecepatan travel untuk urusan bisnis. Di tengah dunia yang semakin cepat, konsumen butuh segala sesuatu yang serba cepat. Hal ini bisa dilihat dari perilaku konsumen yang lebih menyukai transportasi daring (online) yang menawarkan kecepatan.

Hal ini ditangkap oleh penyedia jasa di Amerika dan Eropa dengan menawarkan transportasi pesawat privat yang bisa dipesan secara online. Penyedia jasa tersebut memberlakukan sistem membership sekitar 17.00 dollar AS per tahun. Dibandingkan menggunakan transportasi konvensional, solusi ini lebih cepat dan hemat bagi pekerja yang terbiasa travel bisnis ke mana-mana.

“Pengusaha jasa travel sekarang bukan lagi berfungsi sebagai penyedia jasa travel melainkan penyedia jasa untuk konsumen yang ingin share, leisure, dan experience. Oleh sebab itu, user experience sangat penting bagi konsumen,” pungkas Waizly. [INO]

Foto -foto : dokumen Shutterstock.com

Artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 6 Maret 2018.