Film Review Foxtrot Six

Published on February 22nd, 2019 | by Lucky Natalia

1

Review Foxtrot Six (2019): Pamer CGI yang Tak Mengecewakan

Foxtrot Six hadir saat Indonesia pada 2030 sungguh berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Krisis pangan global dirasakan begitu parah, membuat rakyat rela antre berjam-jam di bawah terik matahari demi mendapatkan sepiring nasi. Kemiskinan meluas. Kekacauan merajalela.

Rakyat yang masih cukup beruntung tidak mengalami kelaparan memilih untuk apatis dan menarik diri sejauh-jauhnya dari aktivitas politik agar tidak “dimangsa” oleh pemerintahan tirani yang dijalankan oleh partai penguasa Piranas. Sementara itu, para menteri dan aparat pemerintah tidak memiliki pilihan selain tunduk kepada pemerintah yang sedang berkuasa.

Review Foxtrot Six

Angga (Oka Antara) merupakan salah satu anggota dewan yang sukses di bawah pemerintahan Piranas. Mantan marinir ini mendapatkan jabatan tinggi dan kehidupan yang mewah karena kesetiaannya terhadap Piranas. Walau begitu, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, dia masih menyimpan luka kehilangan kekasihnya beberapa tahun yang lalu.

Review Foxtrot Six

Angga menjadi salah satu konseptor misi yang direncanakan untuk mengembalikan kepercayaan rakyat kepada Piranas. Kelompok pemberontak, yang sudah bergerilya sejak lama, akan menjadi tumbalnya. Misi ini diharapkan bisa membangkitkan amarah rakyat yang akan mengarah pada kekacauan di mana-mana. Di sinilah Piranas akan hadir sebagai “dewa penyelamat”.

Review Foxtrot Six

Angga sedang bersitegang dengan Wisnu (Edward Akbar), kaki tangan para petinggi Piranas, ketika sebuah drone terpergok sedang menguping pembicaraan mereka. Peristiwa ini membawa Angga kepada masa lalunya, Sari (Julie Estelle).

Review Foxtrot Six

Rentetan peristiwa berikutnya membuat Angga tersadar akan kebobrokan pemerintah dan akhirnya memutuskan untuk melakukan sesuatu. Dia mengumpulkan kembali teman-temannya di militer, yaitu Oggy (Verdi Solaiman), Bara (Rio Dewanto), Tino (Arifin Putra), dan Ethan (Mike Lewis). Mereka dibantu oleh seorang misterius bernama Specs (Chicco Jerikho).

Mereka harus berkejaran dengan waktu untuk menghindarkan pemerintah menjalankan misi kotor mereka dan agar jutaan nyawa bisa terselamatkan.

Baca juga : Review Happy Death Day 2 U (2019), (Kembali) Mati Berulang Kali

Film lokal rasa Hollywood

Penonton sudah bisa merasakan, Foxtrot Six berbeda dari film aksi yang sudah pernah ada sebelumnya ketika mendengarkan dialog-dialognya. Ya, semua dialog dalam film ini dilakukan menggunakan bahasa Inggris. Menariknya, logat bahasa Inggris para pemainnya bisa dibilang sangat baik, walau masih sedikit terlihat kekakuan pengucapan yang berdampak pada “kentang”-nya beberapa adegan.

Hal ini sebenarnya masih sangat bisa dimaklumi berhubung bahasa Inggris bukan bahasa sehari-hari. Para aktor mungkin masih merasakan kecanggungan untuk membagi konsentrasi antara berakting dan mengingat skrip. Namun, secara keseluruhan, usaha mereka untuk menyajikan Foxtrot Six menjadi film berkualitas patut diberikan apresiasi tinggi.

Review Foxtrot Six

Foto-foto: dokumen MD Entertainment

Hal lainnya yang membuat Foxtrot Six menarik adalah penggunaan full CGI dalam adegan. Pengambilan latar waktu 11 tahun dari sekarang tentu harus disesuaikan dengan kemajuan teknologi yang mungkin terjadi pada masa itu. Foxtrot Six semakin berhasil menyajikan teknologi-teknologi tersebut dengan baik. Tak heran banyak penonton berdecak kagum dan tak mengira penggunaan CGI pada film ini sangat mulus dan memuaskan.

Campur tangan Mario Kassar sebagai produser memang menjadi salah satu alasan mengapa pengemasan film ini terasa begitu matang dan nyaris sempurna. Kassar, yang pernah mengerjakan banyak proyek besar Hollywood, seperti Rambo, Total Recall, dan Terminator, menggaet Andrew Juano yang pernah menggarap efek visual film Life of Pi, Sherlock Holmes: A Game of Shadows, dan Jack the Giant Slayer untuk menggarap efek visual film ini.

 Film ini menggabungkan unsur science fiction dan action secara bersamaan yang membuatnya menjadi sebuah tontonan yang sangat menghibur para pencinta film aksi. Penonton akan dimanjakan dengan adegan-adegan aksi yang terasa matang. Begitu juga kemampuan laga para aktornya terlihat tidak “kacangan”.

Kabarnya, para pemain film ini diasuh oleh tim Iko Uwais sehingga penonton bisa melihat mereka unjuk kebolehan memeragakan beberapa jurus silat. Sedikit catatan, film ini menyajikan begitu banyak adegan mengerikan yang tentu saja tidak cocok ditonton oleh anak di bawah umur.

Foxtrot Six diharapkan bisa menjadi salah satu film aksi lokal rasa Hollywood yang siap bersaing di kancah internasional.

Sutradara:
Randi Korompis

Skenario:
Randy Korompis

Pemeran:
Oka Antara, Verdi Solaiman, Chicco Jerikho, Rio Dewanto, Arifin Putra, Mike Lewis, Miller Khan, Gisellma Firmansyah, Edward Akbar, Julie Estelle, Aurelie Moeremans, Cok Simbara

Rilisan:
Indonesia

Tayang perdana:
21 Februari 2019

Review Foxtrot Six (2019): Pamer CGI yang Tak Mengecewakan Lucky Natalia

Summary: aksi dengan polesan CGI yang memukau ini akan memuaskan dahaga para pencinta genre action.

4


User Rating: 0 (0 votes)

Tags: , , , , ,


About the Author



One Response to Review Foxtrot Six (2019): Pamer CGI yang Tak Mengecewakan

  1. Pingback: Review Dilan 1991 (2019) : Sederhananya Cinta Remaja

Leave a Reply

Back to Top ↑