Film

Published on April 5th, 2019 | by mahansa

3

Review Film Shazam (2019): Ketika Anak-anak Jadi Pahlawan Super

Apa jadinya jika impian anak-anak menjelma pahlawan super menjadi kenyataan? Boleh jadi norak, boleh jadi juga bingung karena tidak tahu harus berbuat apa. Itulah yang terjadi dengan sosok Shazam, pahlawan super dari semesta DC Comics.

Dikisahkan, Billy Batson (Asher Angel) adalah anak berulang kali lari dari panti asuhan karena mencari orangtuanya. Hingga suatu kali, ia ditampung oleh keluarga Grazer dan tinggal sekamar dengan Freddie (Jack Dylan Grazer).

Freddie adalah seorang paraplegia. Ia menaruh minat sangat besar pada tokoh-tokoh pahlawan super. Sayangnya, kondisi serta kelakuannya yang dianggap aneh acap membuatnya menjadi sasaran perundungan.

Suatu kali, Freddie kembali mengalami perundungan di sekolah. Tidak terima saudaranya diperlakukan buruk, Billy melawan. Ia lalu dikejar, tetapi dapat meloloskan diri dengan naik ke dalam kereta bawah tanah yang hendak berangkat.

Baru saja menarik napas lega di dalam kereta, tiba-tiba hal aneh terjadi. Orang-orang dalam kereta mendadak hilang dan ketika pintu terbuka, Billy berada di tempat yang tidak diketahuinya.

Ternyata, Billy berpindah ke tempat penyihir Shazam. Si penyihir yang sudah tua harus mencari seorang champion, penerus yang dapat mewarisi kekuatannya untuk melawan roh-roh yang mewakili tujuh dosa maut: sombong, tamak, nafsu, rakus, malas, amarah, dan iri hati.

Selama ini, si penyihir berusaha mencari orang yang murni hatinya. Namun, ia kemudian dikalahkan Thaddeus Silvana (Mark Strong) yang sakit hati karena tidak terpilih. Thaddeus lalu membebaskan dan dirasuk ketujuh roh maut.

Meski tidak mengerti, Billy menuruti saja permintaan penyihir Shazam. Ternyata, dengan menjadi champion, ia menjadi sosok dewasa (Zachary Levi) yang mewarisi sejumlah kekuatan super yaitu kebijaksanaan Solomon, kekuatan Hercules, stamina Atlas, kekuasaan Zeus, keberanian Achilles, dan kecepatan Mercury.

Kembali ke keseharian sebenarnya, Billy kebingungan. Ia “terjebak” dalam tubuh orang dewasa yang sempurna dengan berbagai kekuatan. Padahal, dalam dirinya, ia tetaplah seorang anak-anak. Dengan bantuan Freddie, ia mulai mengenali berbagai kekuatan yang dimiliki.

Baca juga: Review Film Friend Zone (2019): Terjebak dalam Mencintai Tak Harus Memiliki

Sementara itu, Thaddeus yang memiliki kekuatan tak kalah hebat, mulai menebar ancaman. Hanya Shazam alias Billy yang dapat menghentikannya. Mampukah Billy memenuhi takdirnya untuk mengalahkan Thaddeus?

Anak-anak

Dibandingkan kisah-kisah pahlawan super lain dalam semesta DC Comics yang cenderung kelam dan sarat konflik, Shazam terasa lebih ringan dan khas anak-anak. Tingkah polah Shazam sama sekali tidak mencerminkan seorang jagoan dengan kekuatan mahadahsyat.

Sifat anak-anak Billy membuat sosok Shazam tampak menggelikan sebagai jagoan. Ia lebih memilih bolos sekolah sehingga dapat memamerkan kekuatan supernya. Kemampuan mengeluarkan sengatan listrik justru hanya digunakan untuk mengisi daya baterai. Lalu, bersama Freddie, mereka membuat video tentang kehidupan pahlawan super lalu mengunggahnya di internet demi mengejar like.

Baca juga: Review Film Us (2019): Diburu Trauma Masa Lalu

Puncaknya, Shazam alias Billy secara sembrono mengeluarkan kekuatan yang akhirnya justru membahayakan orang lain. Sementara, ketika dikejar oleh Thaddeus, seperti halnya anak kecil, Billy menjadi ketakutan dan berusaha untuk kabur.

Foto-foto: dokumen Warner Bros Pictures.

Shazam menjadi menarik karena mengungkap apa yang dilakukan anak-anak ketika menjadi pahlawan super. Oleh karena itu, jangan terlalu berharap akan banyak adegan perkelahian. Film ini justru lebih banyak berkisah tentang pendewasaan sikap Billy atas kekuatan yang dimilikinya.

Sebagai tontonan, Shazam sangat menghibur. Banyak situasi konyol yang mengundang tawa. Meski demikian, Shazam juga memiliki pesan kuat tentang keluarga dan persaudaraan. Jika Anda menginginkan kisah yang tidak biasa tentang pahlawan super, Shazam cukup layak untuk ditonton.

Sutradara:
David F Sanberg

Cerita:
Henry Gayden, Darren Lemke

Pemeran:
Zachary Levi, Mark Strong, Asher Angel, Jack Dylan Grazer, Djimon Hounsou

Rilisan:
Amerika Serikat

Tayang perdana:
2 April 2019

Review Film Shazam (2019): Ketika Anak-anak Jadi Pahlawan Super mahansa

Summary: Tontonan yang seru dan menghibur meski tidak terlalu banyak menampilkan adegan pertarungan antara jagoan dan penjahat. Selain itu, masih terdapat komedi dan drama yang menarik untuk disimak.

3


User Rating: 0 (0 votes)

Tags: ,


About the Author



3 Responses to Review Film Shazam (2019): Ketika Anak-anak Jadi Pahlawan Super

  1. Pingback: Shazam, Pahlawan Super dari Kacamata Anak-anak – Nuansa Biru

  2. Pingback: Review Film Hotel Mumbai (2019): Teror di Hotel Mewah

  3. Pingback: Review Film Hellboy (2019): Konflik yang Tidak Menegangkan

Leave a Reply

Back to Top ↑