Film Review Film Aquaman

Published on January 11th, 2019 | by Kompas Klasika

0

Review Film Aquaman (2018): Ketika Dunia Bawah Laut Marah

Meski berkisah tentang pahlawan super dari dunia bawah air, Aquaman mengajukan pesan yang kuat tentang lingkungan. Pencemaran laut ternyata menimbulkan kemarahan dari penghuninya dan mendorong mereka untuk berperang dengan dunia permukaan. Aquaman tampil sebagai penengah.

Film ini merupakan edisi keenam dari rangkaian film dalam semesta DC. Jika sebelumnya sosok pahlawan super bernama Aquaman atau Arthur Curry sudah sempat tampil dalam Batman v Super­man (2016) dan Justice League (2017), film ini menceritakan latar belakang dan asal manusia dari kerajaan bawah laut tersebut.

Kisah dimulai ketika pada 1985 petugas mer­cu­suar Thomas Curry menemukan Atlanna, putri dari kerajaan bawah air Atlantis, terdampar di an­tara karang saat badai. Benih cinta bersemai an­tara dua makhluk berbeda latar belakang itu dan lahir­lah kemudian putra mereka yang dinamakan Arthur.

Atlanna ternyata melarikan diri dari Atlantis karena tidak mau dijodohkan. Namun, ketika pasukan Atlantis menjemput, Atlanna pun me­mutuskan untuk kembali ke tempat asalnya demi keselamatan Thomas dan Arthur. Sebelum pergi, Atlanna berjanji akan datang kembali menjumpai Thomas di tempat di mana mereka berpisah.

Lama tak ada kabar, Arthur pun tumbuh menjadi pria perkasa dengan kekuatan luar biasa. Dia juga memiliki kemampuan unik dapat berkomunikasi dengan ikan. Dengan ke­mampuannya itu, ia membantu orang-orang yang lemah dengan memerangi kejahatan.

Dalam salah satu aksinya, Arthur bertemu dengan kawanan perompak yang berusaha membajak kapal selam nuklir milik Rusia. Arthur berhasil melumpuhkan para perompak dan pemimpin mereka, Jesse Kane. Dalam kondisi tak berdaya, Jesse menyuruh anaknya, David Kane, untuk membalaskan dendam pada Arthur.

Jauh di dasar laut, di Atlantis, raja yang kini memerintah Atlantis, Orm, bertekad untuk memerangi dunia di permukaan yang dianggap bertanggung jawab mengotori laut dengan sampah. Apalagi, sebuah serangan dari kapal selam buatan manusia membuat Orm dapat meyakinkan kerajaan-kerajaan bawah laut lainnya untuk bergabung. Termasuk di antaranya Raja Nereus dari Xebel, yang semula tidak sepakat dengan keinginan Orm.

Sementara itu, Mera, anak Raja Nereus yang juga tunangan Orm, muncul ke dunia permukaan untuk mengajak Arthur kembali ke Atlantis dan merebut tahta dari Orm. Arthur menolak. Namun, setelah sebuah tsunami menghancurkan kota kediaman dan nyaris menewaskan ayahnya, Arthur berubah pikiran.

Tidak mudah bagi Arthur untuk dapat me­wujudkan keinginan itu, karena ia harus ber­hadap­an dengan saudara tirinya, Orm. Selain itu, meski memiliki kekuatan luar biasa, Arthur tidak terlatih untuk bertarung di bawah air. Mampu­kah dia mengalahkan Orm dan mencegah peperangan antara dunia bawah air dan dunia permukaan?

Kisah pada film Aquaman ini nyaris tanpa kejutan berarti. Dari awal hingga akhir, kisah mengalir dengan runtut. Meski beberapa kali muncul kilas balik tentang bagaimana Arthur dipersiapkan dan dilatih menggunakan kekuatannya oleh Vulko, orang kepercayaan Atlanna, hal itu hanya untuk memperjelas cerita.

Foto-foto: dokumen Warner Bros Pictures

Berbeda dengan film-film lain dari semesta DC yang cenderung terkesan “kelam”, Aquaman tampil lebih semarak. Penggambaran Atlantis dan dunia bawah laut juga sangat memesona. Demikian pula adegan pertempuran di bawah laut memberikan kesan yang berbeda dengan pertempuran di daratan.

Bagi penggemar film-film pahlawan super, Aquaman tak boleh terlewatkan. Sebagai tontonan keluarga, selain seru dan menghibur, film ini membawa pesan yang sangat kuat tentang pentingnya menjaga kelestarian alam, khususnya lautan. [ACA]

Sutradara:
James Wan

Skenario:
David Leslie, Johnson-McGoldrick, Will Beall

Pemeran:
Jason Momoa, Amber Heard, Willem Dafoe, Patrick Wilson, Dolph Lundgren, Yahya Abdul-Mateen II, Nicole Kidman

Rilisan:
Amerika Serikat

Tayang Perdana:
Desember 2018

Artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 26 Desember 2018.

 

Review Film Aquaman (2018): Ketika Dunia Bawah Laut Marah Kompas Klasika

Summary:


User Rating: 0 (0 votes)

Tags: ,


About the Author



Leave a Reply

Back to Top ↑