Artikel film 22 menit

Published on July 25th, 2018 | by Kompas Klasika

0

Review Film 22 Menit (2018): Sepak Terjang Polri Menumpas Teroris

14 Januari 2016 menjadi salah satu hari paling bersejarah bagi warga DKI Jakarta. Sebuah serangan teroris dan rentetan bom terjadi di salah satu jalan utama dan tersibuk. Kondisi Jakarta langsung mencekam. Untungnya Polri bergerak cepat dalam waktu 22 menit menumpas para teroris.

Peristiwa Bom Sarinah membekas di benak banyak orang. Ketika serangan terjadi, Polri langsung bergerak menuju lokasi dan konon kabarnya mereka berhasil meringkus para teroris dalam waktu 22 menit saja. Pencapaian ini mendapatkan apresiasi dari masyarakat, termasuk di dunia maya.

Kisah heroik ini akhirnya diangkat ke layar lebar, diadaptasi menjadi sebuah film action yang diproduksi oleh Buttonijo Film. Film ini disutradarai oleh Eugene Panji (Cita-citaku Setinggi Tanah-2012) dan Myrna Paramita.

Deretan pemain yang sudah tak asing lagi di telinga, seperti Ario Bayu, Mathias Muchus, Ence Bagus, Ardina Rasti, dan Fanny Fadillah meramaikan film ini. Didukung juga oleh pemain-pemain yang tak kalah berkualitas, seperti Ajeng Kartika, Taskya Namya, dan Hana Malasan.

film 22 menit

Plot unik

Pada dasarnya, film ini mengambil plot yang sama dengan kronologis peristiwa aslinya. Namun, terdapat tambahan “bumbu” di sana-sini untuk memberikan kesan dramatis dan lebih mencekam.

Plot yang digunakan cukup unik, menggunakan sudut pandang dari beberapa karakter penting film ini, dengan alur maju-mundur. Alur sejenis ini juga pernah digunakan di film Vantage Point. Pemilihan alur ini bisa dibilang cukup cerdas karena berhasil membangun suasana tegang.

Film ini dibuka dengan suara Vincent yang menyapa warga Jakarta melalui siaran radio. Narasi yang dituturkan Vincent berhasil membangun mood penonton, membuat penonton terlarut dalam film dan mampu related ke dalam hiruk-pikuk kota. Ketika adegan perlahan berlanjut ke keseharian para karakternya, penonton mulai mengenal para karakter, yang nantinya memiliki andil masing-masing dalam film ini.

film 22 menit

Karakter

Karakter Ardi (Ario Bayu) adalah seorang anggota kepolisian. Menariknya, dia diceritakan sebagai family man, yang membuatnya tak segan memasak sarapan untuk istrinya dan mengantar anak ke sekolah. Ardi adalah salah satu karakter kunci dalam film ini. Diceritakan, dalam perjalanannya menuju suatu lokasi perampokan, dia melewati perempatan Sarinah beberapa saat setelah terjadi pengeboman.

Ardi yang kemudian memimpin tim untuk mengejar teroris dan melumpuhkan mereka. Karakter Ardi membuat penonton teringat pada anggota polisi yang pernah viral di media sosial, Kompol Teuku Ardya Khadafi. Walau begitu, sang sutradara, Eugene Panji, menegaskan bahwa semua karakter dalam film ini adalah fiksi.

Karakter lainnya, yaitu Hasan (Fanny Fadillah) dan Anas (Ence Bagus), kakak-beradik yang berada di lokasi kejadian. Hasan, kakak Anas, berjanji kepada adiknya untuk datang ke kantornya untuk melamar pekerjaan. Ketika Hasan sampai di perempatan Sarinah, terjadilah ledakan bom, yang membuat hidup Anas dan ibunya berubah 180 derajat.

Kedua karakter ini memiliki porsi drama yang paling besar. Ikatan keduanya dengan sang ibu yang sudah paruh baya, juga kondisi keuangan mereka yang kekurangan, membuat penonton berempati. Peristiwa pengeboman di perempatan Sarinah hari itu mungkin membawa dampak besar bagi para korban, membuat mereka harus menjalani hidup yang sama sekali berbeda.

Fanny dan Ence yang telah malang-melintang di industri perfilman tentu tak perlu usaha keras untuk memerankan karakter-karakter tersebut. Mereka terkenal dengan karakter-karakter unik penuh kesederhanaan. Hasilnya, kedua karakter ini tampil dengan sangat apa adanya, tetapi justru memberikan dampak yang besar di hati penonton.

Ada pula karakter Firman (Ade Firman Hakim), anggota polisi yang sedang memiliki masalah dengan tunangannya Shinta (Taskya Namya). Dalam kekalutannya, dia tetap melaksanakan tugasnya bertugas di perempatan Sarinah. Dan saat pengeboman terjadi, Firman berada sangat dekat dengan pos polisi. Seperti cerita Hasan dan Anas, peristiwa ini memberikan dampak yang besar bagi Shinta dan Firman, khususnya bagi hubungan mereka.

Jika memang tujuan akhir 22 Menit menjadi film yang berdiri sendiri, tanpa ada kaitannya dengan salah satu event besar di Jakarta, plot film ini memiliki potensi besar untuk bisa digali lebih dalam dan tiap karakternya mendapatkan eksplorasi yang lebih detail. Sayangnya, banyak karakter yang dibiarkan berlalu begitu saja; diperkenalkan seadanya sehingga penonton belum sempat merasakan attachment terhadap karakter tersebut.

Action rasa drama

Jika dilihat sepintas, film ini bisa dikategorikan sebagai film action. Adegan baku tembak, walau tidak terasa intens, cukup memberikan warna baru dalam industri film Indonesia. Keseriusan Buttonijo Films menggarap sisi aksi film ini ditunjukkan dari kerja sama dengan Polri dan mengirim para pemain mereka untuk pelatihan memegang senjata.

Adegan pengeboman juga digarap dengan sangat serius. Para kru membuat tiruan kedai kopi dan pos polisi dengan rasio 1:1 dan meledakkannya untuk memberikan efek nyata bagi penonton.

Hasilnya, unsur action dalam film ini memang cukup kental. Aksi Ardi dan para teroris terlihat real walau memang belum bisa disejajarkan dengan aksi-aksi di film Hollywood. Sayangnya, porsi action di film ini tak sebanyak porsi dramanya. Juga, durasi film yang terlalu singkat, selama 75 menit, membuat film ini terasa tanggung.

Eugene Panji mengungkapkan saat konferensi pers “Press Screening” 22 Menit di Epicentrum XXI, Jakarta, Senin (16/7), film ini memilih untuk mengangkat sisi humanisme. Melalui film ini, Eugene dan Myrna ini menyadarkan banyak orang bahwa korban terorisme ini adalah masyarakat Indonesia sendiri.

Oleh karena itu, mereka mengambil sudut pandang dari beberapa karakter, dengan harapan output-nya membuat siapa pun yang menyaksikan film ini untuk sadar bahwa dalam setiap peristiwa terorisme yang terjadi, ada orang-orang yang hidupnya terkena dampak.

Bisa dibilang 22 Menit berusaha memanggul dua misi: memberikan tayangan yang memuaskan penonton dengan menyajikan action yang optimal, tetapi dalam waktu yang bersamaan juga mengedukasi penonton—khususnya generasi muda—untuk tak perlu takut dengan terorisme dan selalu bersatu melawan segala aksi yang mengancam keamanan negara. [DLN]

Sutradara: Eugene Panji, Myrna Paramita
Skenario: Husein M Atmojo, Gunawan Raharja
Pemain: Ario Bayu, Ardina Rasti, Ade Firman Hakim, Taskya Namya, Raya Adena, Hana Malasan, Fanny Fadillah, Ence Bagus, Mathias Muchus
Rilisan: Indonesia
Tayang Perdana: 19 Juli 2018

Foto Dok Buttonijo Films

Artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 25 Juli 2018


About the Author



Leave a Reply

Back to Top ↑