Layar Perak Ralph Breaks the Internet

Published on December 6th, 2018 | by Kompas Klasika

0

Review Film Ralph Breaks the Internet (2018): Meraih Mimpi di Dunia Tanpa Batas

Enam tahun setelah Wreck-it Ralph, Ralph dan Vanellope kembali menyapa melalui sekuel bertajuk Ralph Breaks the Internet. Kali ini, dua sahabat tersebut bertualang menerobos Internet demi mencari sebuah kemudi dan berakhir dengan meraih mimpi.

Setelah kejadian pada Wreck-it Ralph, Ralph (John C Reilly) dan Vanellope (Sarah Silverman) menjadi teman baik dan selalu menghabiskan waktu bersama. Namun, Vanellope merasa bosan hidupnya begitu-begitu saja. Sebagai pebalap andal, dia tak puas karena hanya terdapat tiga jalur balapan di gim Sugar Rush. Sebagai teman baik, Ralph tentu ingin menolong. Maka, ia pun masuk ke gim Sugar Rush dan tanpa sepengetahuan Vanellope membuat jalur balapan baru menyimpang dari yang sudah ada.

Di dunia nyata, pengunjung pusat permainan Litwak yang memainkan gim Sugar Rush kesulitan mengendalikan mobil karakter Vanellope yang mendadak berpindah ke jalur buatan Ralph. Karena berusaha keras, tanpa sengaja ia mematahkan kemudi.

Mesin gim arcade Sugar Rush pun ditutup dan terancam diafkir. Pasalnya, mesin gim itu sudah usang dan perusahaan pembuatnya pun sudah tidak ada. Akan tetapi, Ralph dan Vanellope sempat mendengar, ketika Litwak berusaha mencari suku cadang kemudi, ada yang menjualnya di sebuah tempat bernama Ebay di Internet.

Kebetulan, Litwak baru memasang koneksi internet menggunakan Wi-Fi. Namun, pintu menuju internet ditutup oleh pengawas stasiun pusat gim karena mereka tidak tahu apa yang ada di dalam pintu tersebut. Ralph dan Vanellope nekat menerobos masuk untuk mencari Ebay dan membeli kemudi agar mesin gim Sugar Rush dapat kembali beroperasi.

Di sinilah Ralph Breaks the Internet menjadi menarik. Sama halnya ketika penonton terpesona melihat kreativitas pembuat film menggambarkan suasana di dalam dunia gim arcade, kali ini pun penggambaran semesta Internet benar-benar mengesankan.

Ralph dan Vanellope antara lain bertemu dengan mesin pencari Knowsmore dan situs berbagi video BuzzTube. Ralph Breaks the Internet berhasil untuk menjelaskan berbagai fenomena di internet dengan cara sederhana dan menghibur. Misalnya saja membuat video konyol untuk mendapatkan rating tinggi atau ruang untuk memberikan komentar ditampilkan dengan cara yang kocak tetapi mudah dipahami, bahkan oleh anak kecil.

Sepanjang film, penonton dimanjakan dengan penggambaran semesta internet yang riuh dan spektakuler. Selain Ebay, sejumlah situs dan merek populer mendapatkan kesempatan tampil. Demikian pula, sejumlah karakter Disney dan tokoh-tokoh video gim yang sudah muncul pada film terdahulu.

Foto-foto: dokumen Walt Disney Studios Motion Pictures

Namun, tidak seperti film terdahulu, kali ini Ralph dan Vanellope tidak memiliki sosok musuh. Yang menjadi “musuh” justru diri mereka sendiri. Memasuki dunia yang sama sekali berbeda membuat Vanellope seakan menemukan impian yang selama ini ia dambakan, tetapi tidak terbayangkan. Sebaliknya, Ralph yang sudah puas dan merasa cukup dengan kehidupannya justru tidak nyaman dengan dunia tanpa batas ala internet. Konflik pun berkembang dan mengancam persahabatan mereka.

Secara keseluruhan, Ralph Breaks the Internet merupakan kelanjutan yang tidak kalah seru dibandingkan film pertama. Hanya, gregetnya berbeda, hal yang lumrah pada film sekuel. Banyaknya referensi dan cameo pada tokoh, karakter, dan merek populer bisa jadi menarik dan menghibur bagi sebagian penonton, tetapi boleh jadi terasa berlebihan bagi penonton lain. Namun, sebagai tontonan keluarga yang mendidik, film ini cukup pantas dipilih. [ACA]

Sutradara:
Rich Moore dan Phil Johnston

Produser:
Clark Spencer

Skenario:
Phil Johnston dan Pamela Ribon

Pengisi suara:
John C Reilly, Sarah Silverman, Gal Gadot, Taraji P Henson, Jack McBrayer, Jane Lynch, Alan Tudyk, Alfred Molina, Ed O’Neill

Rilisan:
Amerika Serikat

Tayang perdana:
21 November 2018

Artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 5 Desember 2018.

Review Film Ralph Breaks the Internet (2018): Meraih Mimpi di Dunia Tanpa Batas Kompas Klasika

Summary:


User Rating: 0 (0 votes)

Tags: ,


About the Author



Leave a Reply

Back to Top ↑