B_Film Review Film Mortal Engines (2018)

Published on December 20th, 2018 | by Kompas Klasika

0

Review Film Mortal Engines (2018): Bertahan Hidup di Reruntuhan Bumi

Sebuah perang besar bergejolak. Seluruh bagian dunia mengalami kiamat kecil. Bumi tak lagi menjadi tempat yang nyaman untuk ditinggali. Saat itulah, manusia harus memutar otak untuk bertahan hidup, walau harus dengan cara mendominasi kelompok yang lebih kecil.

Yang terpampang hanyalah kegersangan. Tak ada lagi pohon dengan daun lebat. Tak ada lagi padang sabana luas. Manusia tak lagi bisa menjejakkan kaki di tanah untuk bertahan hidup. Mereka membangun sebuah “kendaraan besar”. Mereka “mengangkat” kota agar bisa berpindah tempat, men­cari sumber daya alam yang dimiliki kota lain: semata-mata untuk menyambung hidup.

London menjadi salah satu kota besar yang bertahan di era post-apocalypse. Di dunia imajinasi Philip Reeve yang dikisahkan di buku pertamanya, Mortal Engines, Bumi mengalami kehancuran besar pasca Perang Enam Puluh Menit. Seorang nomad meng­gagas agar London mulai bergerak dan mencari kehidupan di tempat lain agar warga­nya tetap bisa hidup.

London pun disulap menjadi sebuah tank besar yang memangsa kota-kota kecil untuk diambil sumber dayanya. London dipimpin oleh seorang Wali Kota bernama Magnus Crome (Patrick Malahide) yang memiliki orang ke­percayaan, Thaddeus Valentine (Hugo Weaving). London menjadi kota yang sangat ditakuti. Salah satunya oleh kota kecil yang akhir­nya menyerah di tangan London, Salzhaken. Di dalam kota kecil tersebut, se­orang perempuan bertekad untuk membunuh Thaddeus.

Hester Shaw (Hera Hilmar) nama perempuan itu. Dia memiliki luka parut di wajahnya. Dia menyimpan dendam kepada Valentine yang bertanggung jawab atas kematian ibunya. Hester berhasil mendekati Thaddeus dan menusuknya. Pada saat itu, Tom Natsworthy (Robert Sheehan), seorang sejarawan yang sedang berada di sana, melihat aksi Hester dan mengejarnya.

Tom nyaris menangkap Hester sampai Hester membisikkan kalimat kepada Tom kemudian meloloskan diri melalui saluran pembuangan sampah. Thaddeus, tahu bahwa Tom mulai mempertanyakan kebenaran kalimat Hester, berusaha membunuh Tom dengan menendangnya ke saluran pembuangan sampah.

Tom dan Hester terbuang keluar dari London. Dengan terpaksa Hester mau mengajak Tom yang memintanya untuk mengantarnya ke kota terdekat untuk kembali ke London. Dalam perjalanan, Tom dan Hester dimangsa kota perdagangan dan diselamatkan oleh kota kecil Scuttlebug yang ternyata berniat menjual mereka. Saat hendak dijual, mereka diselamatkan oleh Anna Fang (Jihae) yang merupakan anggota kelompok Anti Traksi.

Tom, Hester, dan Anna melarikan diri. Fang membongkar rahasia bahwa dia adalah teman baik ibu Hester, Pandora. Dari pertemuan tersebut, mereka mengetahui bahwa Thaddeus sedang membangun sebuah mesin berkekuatan nuklir untuk menghancurkan Tembok Pertahanan untuk menguasai kota-kota yang ada di sana. Mereka pun harus berkejaran dengan waktu mencari cara untuk menggagalkan rencana itu dan menghindarkan bumi kembali mengalami kiamat kecil akibat peperangan.

Pemandangan tidak biasa yang menghibur

Menyaksikan London berdiri kokoh di atas roda bukanlah pemandangan yang biasa. Kredit tertinggi diberikan kepada sang penulis buku yang memiliki imajinasi liar yang begitu spektakuler. Tak heran, karyanya ini mendapatkan penghargaan Nestle Smarties Book Prize pada 2002.

Imajinasi tingkat tinggi Reeve ini berhasil divisualisasikan oleh sutradara Christian Rivers, yang sengaja dipilih oleh sang produser, Peter Jackson, karena pernah menyabet Piala Oscar untuk kategori Best Visual Effects untuk film King Kong pada 2005. Memang, Jackson sengaja “memboyong” beberapa anggota tim yang pernah bekerja bersamanya untuk menggarap satu lagi film fantasi dengan kerumitan imajinasi tingkat tinggi.

Hasil kerja sama Jackson dan Rivers ini tidak mengecewakan. Mortal Engines menyajikan visualisasi era post-apocalypse yang suram, gelap, dan dingin. Konsep London yang berdiri megah di atas roda tank juga begitu brilian, walau sayang hanya ditampilkan sebagai latar dengan porsi yang tak banyak.

Foto-foto: dokumen Universal Pictures

Konsentrasi film berpusat pada Thaddeus, Hester, Tom, dan Anna. Valentine menjadi antagonis utama yang memiliki ambisi untuk menguasai dunia dengan menjadikan London sebagai kota yang kuat dan ditakuti semua kota kecil. Di akhir film, penonton akan mendapatkan “kejutan kecil” perihal ketegangan antara Thaddeus dan Hester.

Jika berdiri sendiri, Mortal Engines berhasil memberikan hiburan kepada penonton. Sebuah pengalaman baru menyaksikan sebuah kota berjalan-jalan melemparkan nuklir ke lawannya. Namun, sayang, keterbatasan durasi membuat banyak detail dari versi bukunya tak bisa dimasukkan. Jika penonton cukup memperhatikan detail, akan terasa banyak kepingan puzzle yang hilang yang menerbitkan tanda tanya besar di kepala.

Sisi positifnya, sebagian besar penonton mengakui bahwa mereka menjadi tertarik untuk membaca versi bukunya untuk mencari tahu lebih dalam tentang dunia post apocalypse buatan Philip Reeves ini. [DLN]

Sutradara:
Christian Rivers
Skenario:
Fran Walsh, Philippa Boyens, Peter Jackson
Pemeran:
Hugo Weaving, Hera Hilmar, Robert Sheehan, Jihae, Ronan Raftery, Leila George, Patrick Malahide, Stephen Lang
Rilisan:
Amerika Serikat
Tayang Perdana:
Desember 2018

Artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 20 Desember 2018.

Review Film Mortal Engines (2018): Bertahan Hidup di Reruntuhan Bumi Kompas Klasika

Summary:


User Rating: 0 (0 votes)

Tags: ,


About the Author



Leave a Reply

Back to Top ↑