Nusantara Bertutur dongeng anak pavo si merak sombong

Published on December 30th, 2018 | by Kompas Klasika

Dongeng Anak: Pavo si Merak yang Sombong

logo nusantara bertutur

 

 

 

Di hutan Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi, Jawa Timur, hiduplah berbagai macam hewan. Di antara mereka ada Baban si Banteng, Tuki si Tupai, Jimi si Ular, dan Pavo si Merak.

Diantara mereka,  Pavo si Merak adalah hewan yang sombong. Pavo suka sekali membanggakan bulu ekornya yang mengembang cantik sempurna. Hewan lain yang ada di dekatnya selalu saja diejek.

“Aduh Baban, mengapa perutmu gendut sekali?” kata Pavo.

Jimi ular pun sering kena sindir. “Hei Jimi, kasihan sekali kau tidak punya kaki. Tubuhmu jadi kotor, karena kena tanah semua.”

Begitupun Tuki Tupai. Ia tak lepas dari ejekan Pavo. “Uh, lihat siapa yang datang? Pantas dari tadi aku mencium bau yang tidak enak.”

Karena itulah, tidak ada yang mau berteman dengan Pavo. Mereka semua sakit hati dengan perkataannya.

Suatu hari, Pavo jatuh sakit. Badannya panas dan kepalanya pusing. Dengan kondisi seperti itu, Pavo tidak bisa mencari makan.

Baban yang mendengar berita Pavo sedang sakit, langsung mengajak teman-teman lain untuk menjenguknya.

“Tidak mau, ah! Pavo selalu bilang badanku kotor. Padahal aku punya sisik yang melindungi tubuhku,” tolak Jimi.

“Aku juga dibilang bau. Padahal aku mengeluarkan bau saat melindungi diri saja,” sahut Tuki.

“Tapi kasihan Pavo. Ia pasti sedang kesusahan sekarang,” lirih Baban.

“Sudahlah Ban, tidak usah pedulikan burung merak angkuh itu. Apa kamu tidak kesal, kamu sering diolok-olok juga?” ujar Jimi ketus.

Baban pun tidak bisa memaksa teman-temannya.

Malam pun menjelang. Langit mendung mulai menurunkan hujan yang cukup deras.

“Duh, bagaimana keadaan Pavo di cuaca dingin seperti ini?” batin Baban khawatir. Baban lalu memutuskan pergi ke sarang Pavo dan membawa beberapa makanan.

Sesampai di rumah Pavo, Baban mendapati Pavo sedang pingsan. Segera saja Baban menolong Pavo. Ia mengompres tubuh Pavo dan menungguinya sampai sadar.

Saat sadar, Pavo menangis melihat Baban ada disampingnya. “Hu hu… Aku kira tidak ada siapapun yang mau menolongku. Karena aku sudah berkata sangat keterlaluan kepada teman-teman. Maafkan aku, ya, Baban!”

“Kamu sudah kumaafkan, Pavo. Cepatlah sembuh. Setelah sembuh, aku sarankan kamu juga minta maaf pada teman-teman yang lain. Dan aku harap, kamu tidak lagi mengulangi perbuatanmu. Jika kamu bisa berubah, aku yakin teman-teman semua akan mau menerimamu menjadi sahabat dan peduli padamu,” saran Baban.

Pavo mengangguk cepat. Ia ingin segera menemui teman-teman lain untuk meminta maaf. Pavo sadar, bahwa di dunia ini, ia tidak bisa hidup sendiri. Ia membutuhkan sahabat seperti Baban yang sudah ikhlas menolongnya. Dan untuk mendapatkan sahabat seperti itu, Pavo tidak boleh bersikap sombong. Ia juga harus selalu berperilaku baik dan peduli pada sesama. *

Penulis: Herdita Dwi R.
Pendongeng: Paman Gery (@paman_gery)
Ilustrasi: Regina Primalita

Tags:


About the Author



Back to Top ↑