Langgam Jalan-jalan ke ujung genteng

Published on January 10th, 2018 | by Kompas Klasika

Bertualang ke Ujung Genteng yang Mentereng

Di pesisir selatan Bumi Pasundan ada kawasan yang elok untuk dikunjungi. Ujung Genteng, namanya. Destinasi wisata ini menyuguhkan pesona pantai dan air terjun. Keindahan inilah yang menggetarkan rasa penasaran tim Kompas Eksplor untuk mendekat ke sana. Pada pengujung tahun lalu, berbekal antusiasme, kami menyempatkan diri merapat ke Ujung Genteng.

Ujung Genteng menjadi urutan kelima pada tujuan wisata yang kami bidik selama road trip mengelilingi Jawa Barat. Kami bertolak dari Pantai Santolo di Garut saat pagi telah tanak, sekitar pukul 9. Beruntung, hari itu, Rabu (6/12), cuaca cerah meningkahi perjalanan kami.

Sesuai prediksi, enam jam kemudian tibalah kami di resor penginapan di tepi pantai Ujung Genteng. Sempat muncul keinginan menyelonjorkan kaki sejenak untuk menggusah lelah di resor berbentuk rumah joglo itu. Namun, karena jadwal yang tak cukup longgar, kami memutuskan bergegas ke tempat elok untuk menikmati sunset, yaitu Pantai Cipanarikan.

Menurut penjaga resor, menuju Pantai Cipanarikan butuh waktu sekitar setengah jam. Kondisi pantai yang masih terbilang alami, akses untuk kendaraan roda empat baru dibuka lima tahun terakhir. Sebelumnya, jika ada wisatawan mau pergi ke Cipanarikan, mereka hanya bisa memakai sepeda motor atau menyewa ojek.

Jalan menuju pantai belumlah beraspal dan hanya muat dilalui satu mobil. Meski begitu, di sepanjang jalan sudah berdiri penginapan-penginapan sederhana.

Menikmati “sunset”

Menariknya, setibanya di lokasi, kami tak langsung mendapati hamparan pantai. Ternyata, lokasi Pantai Cipanarikan cukup tersembunyi. Masih perlu berjalan kaki 10-15 menit membelah hutan bakau untuk mencapainya. Warga setempat yang menjadi juru parkir dengan cepat mengambil peran sebagai penunjuk jalan yang andal.

Untuk menikmati panorama Pantai Cipanarikan tidak dipungut biaya. Namun, sebaiknya siapkan uang untuk membayar parkir kendaraan dan memberikan tip bagi penunjuk jalan.

Akhirnya, perjalanan ini sampai ke tujuan. Hamparan pantai berpasir putih yang landai dan sangat alami menyambut kami. Lembutnya butiran pasir pantai, eloknya rentangan ombak di lautan, ditambah temaram langit senja yang romantis menjadi penawar rasa lelah. Pantai Cipanarikan menjadi tempat yang oke untuk mengantar mentari tenggelam di cakrawala.

Foto-foto : Iklan Kompas/E. Siagian

Bila ingin menikmati sunset di Pantai Cipanarikan sambil mengudap camilan sebaiknya membawa bekal sendiri sebab belum banyak penjaja makanan di sana. Namun, jangan pernah membuang sampahnya sembarangan demi menjaga kebersihan dan kelestarian pantai.

Keesokan paginya, kami meluncur ke Curug Cikaso sekaligus melanjutkan road trip menuju Sawarna, di Lebak, Banten. Menempuh perjalanan selama satu jam dari resor, kami sampai di air terjun yang populer di Ujung Genteng.

Magis

Curug Cikaso telah dikelola secara profesional. Ini tampak dari fasilitas dan infrastruktur yang modern. Tiket masuk per orang cukup murah, Rp 3 ribu. Sementara itu, ongkos parkir kendaraan roda empat mencapai Rp 15 ribu.

Menuju Curug Cikaso bisa ditempuh dengan berjalan kaki atau menyewa perahu motor. Karena semalaman diguyur hujan, jalanan menuju air terjun cukup becek dan berlumpur. Kami pun memilih opsi kedua.

Penyewaan perahu di Curug Cikaso dikelola oleh warga setempat. Dengan membayar Rp 65 ribu—pergi-pulang—perahu sewaan siap menemani turis yang ingin menikmati panorama Curug. Satu perahu bisa memuat 4–6 orang.

Dermaga untuk menunggu perahu tergolong modern. Menurut salah seorang pengayuh perahu, dermaga apung yang dilengkapi lampu-lampu bertenaga surya itu, baru selesai dibangun setahun terakhir oleh pemerintah daerah. Tujuannya, agar Curug Cikaso tak kalah bersaing dengan destinasi wisata lainnya di Jawa Barat. Cukup mentereng.

Menyusuri sungai dengan perahu, perjalanan ke Curug Cikaso hanya sekitar lima menit. Setibanya di lokasi, kami disuguhi pemandangan air terjun yang indah. Ada tiga air terjun alami, yaitu Curug Asepan, Curug Meong, dan Curug Aki dengan kolam berwarna biru turquoise yang jernih. Tidak heran, jika beberapa wisatawan saat itu, langsung “terhipnotis” untuk nyemplung dan bermain air di kolam ini.

Kami berpendapat, pagi hari menjadi waktu yang pas untuk menyambangi air terjun ini. Sebab,  paparan cahaya matahari pagi yang menyapu butiran air terjun, akan memendarkan atmosfer magis.

Meski hanya belasan jam mengunjungi Ujung Genteng, tempat ini mampu memahat kesan impresif dalam hati kami. Nanti di lain hari, kami akan kembali lagi. [MR RAHAJENG KRISTIANTI]

Artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 10 Januari 2018

Bertualang ke Ujung Genteng yang Mentereng Kompas Klasika

Summary:


User Rating: 0 (0 votes)

Tags: , ,


About the Author



Back to Top ↑