Pada masa pemilihan pemimpin ini, publik sibuk membahas beragam hal dari para calon presiden peserta pemilu. Selain rekam jejak, pakaian hingga bagaimana sikap dan body language para kandidat sepanjang proses debat berlangsung.

Pakaian memang merupakan unsur yang paling terlihat dan mudah dikelola dalam pembentukan citra, sampai ada konsep dress for success. Bagaimana kita menggunakan pakaian untuk menampilkan citra kesuksesan yang ingin diraih.

Meski demikian, karisma seorang pemimpin tidak cukup hanya ditampilkan lewat pakaiannya. Apalagi persepsi mengenai pakaian pun terus bergeser seiring dengan perubahan zaman. Bila dulu gaya berpakaian profesional identik dengan jas atau paling tidak blazer, sekarang kita banyak melihat para eksekutif muda yang menggunakan pakaian kasual, seperti celana jeans di forum-forum besar sekalipun.

Pemimpin perusahaan decacorn bahkan menggunakan kaos oblong, tidak berganti warna, sebagai salah satu kekhasannya. Di sini, kita melihat bahwa pandangan terhadap kewibawaan seorang pemimpin sebenarnya terkait pada hal-hal yang lebih esensial, seperti bagaimana ia berkomunikasi menyampaikan ide pemikirannya, visi, dan misinya. Selain itu, bagaimana ia memberikan perhatian kepada pihak lain, bagaimana caranya menghadapi beragam konflik maupun tekanan dalam pekerjaannya.

Dulu kita mengimajinasikan pemimpin yang berwibawa sebagai sosok pria paruh baya yang berperawakan tegap, bersuara mantap, dan menebarkan aura kekuasaan dengan suara lantang. Sekarang, kita melihat begitu banyak pemimpin muda yang memesona dunia dengan penampilannya yang sederhana, tetapi mampu menginspirasi dan mendorong perubahan.

Jadi, bagaimana “tongkrongan” yang harus dikelola oleh mereka yang ingin memacu kariernya sehingga dapat tampil menjadi pribadi yang diperhitungkan? Bagaimana membuat individu yang terbiasa di belakang meja berkutat dengan pekerjaannya sendiri, dapat memimpin tim dengan mulus sambil menghadapi beragam stakeholder? Bagaimana mengemas sikap dan gaya para pemimpin muda ini sehingga dapat tampil bersinar dan memberikan dampak kuat sesuai dengan peran dan tanggung jawabnya?

Karisma merupakan kekuatan yang dapat membuat pihak lain memperhatikan keberadaan individu. Auranya memang dapat diperkuat melalui usia dan pengalaman yang membuat individu semakin matang. Namun, tidak semua yang berumur dapat memukau pihak lain menggunakan karismanya. Hal ini berarti berupa keterampilan yang perlu dilatih dan dikembangkan.

Dalam budaya Romawi kuno, ada sebuah konsep yang disebut gravitas. Ini mengacu pada keanggunan seorang pemimpin ketika tampil menyampaikan idenya, mengarahkan diskusi, sampai menghadapi situasi yang dilematis dan penuh tekanan. Gravitas adalah kekuatan yang dimiliki individu yang dapat membuat orang lain memperhatikannya. Seorang pemimpin perlu memiliki sense of comfort yang dapat membuat anggota tim merasa tenang dalam situasi genting sekalipun karena ada sosok yang bisa menjadi pegangan mereka.

Untuk memperkuat gravitas, pemimpin juga perlu memiliki kerendahan hati agar memahami kelemahan diri di samping kekuatan yang dimiliki. Pemimpin perlu mengembangkan empati dan sikap penuh respek. Hanya dengan kesadaran tinggi seorang pemimpin bisa memainkan dinamika kekuatannya untuk menarik orang lain.

Wibawa yang menginspirasi

Perlu diingat bahwa wibawa dan karisma pemimpin ini bukanlah bakat, melainkan kompetensi yang bisa dikembangkan. Oleh karena itu, setiap orang bisa melatih dan mengasah dirinya untuk meningkatkan “tongkrongan” kepemimpinannya agar sejalan dengan peran dan tanggung jawabnya.

Ada beberapa langkah yang bisa kita tempuh untuk menaikkan wibawa di mata para stakeholder.

Pertama, memperjelas visi dan berlatih mengartikulasikannya ke dalam bahasa yang mudah dipahami oleh pendengar kita. Kemampuan kita untuk menyampaikan visi yang kita miliki, baik dalam momen singkat seperti pertemuan di lift, maupun sesi presentasi panjang, menunjukkan kekuatan akan kejelasan kita terhadap visi itu sendiri.

Semakin jelas visi yang kita sampaikan, semakin mudah para pendengar memahami dan menghubungkannya dengan kehidupan mereka sendiri. Dengan demikian, semakin kuat pula dampak yang kita tinggalkan dalam benak pendengar untuk menggerakkan mereka.

Kedua, memeriksa bagaimana orang lain menghayati kehadiran kita. Banyak pemimpin yang tidak menyadari bahwa kehadirannya sering dianggap mengancam atau menekan. Cari sebanyak mungkin umpan balik dari berbagai pihak yang berbeda untuk mendapatkan pemahaman yang lebih obyektif.

Sadari juga bagaimana reaksi kita di bawah tekanan ketika menghadapi konflik dengan pihak lain. Penampilan yang tetap tenang dalam situasi mengancam sekalipun menunjukkan bahwa kita dapat menjadi sandaran bagi anggota tim. Selain itu, menegaskan kemampuan kita untuk menghadapi tantangan yang lebih sulit dari tanggung jawab yang lebih besar.

Ketiga, keterampilan berkomunikasi melalui beragam medium, baik daring maupun luring. Bagaimana kita meyakinkan pihak lain, dan terutama sekali bagaimana kita mendengarkan dan menaruh perhatian penuh terhadap kebutuhan pihak lain sambil mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tepat.

Kekuatan mendengar menunjukkan pemimpin yang sudah selesai dengan dirinya dan terbuka untuk berubah, serta berkolaborasi demi mencari solusi yang lebih baik. Keterampilan mendengar dapat menumbuhkan respek pihak lain bahwa pemimpin tidak berkutat dengan egonya sendiri. Leaders are never done learning, and they seek diverse perspectives. Asking questions is how we all learn

Keempat, membangun jejaring dengan beragam stakeholder. Hubungan dalam organisasi selalu kompleks dengan berbagai pendapat dan agenda. Pemimpin yang berwibawa mampu mengembangkan jejaringnya dan mampu berpolitik dengan benar, sehingga bisa meraba kapan perlu memersuasi dan kapan cukup mendengar.

Terakhir adalah penampilan. Bagaimana menyesuaikan penampilan kita dengan citra yang ingin ditampilkan. Pastikan jangan sampai penampilan kita terlalu menarik perhatian sehingga kualitas pribadi malah tenggelam. Jangan lupa juga untuk memperhatikan bahasa tubuh yang memperkuat impresi yang ingin kita tanamkan. Image isn’t just what you wear, it’s also how you wear it.

Eileen Rachman & Emilia Jakob

EXPERD

HR CONSULTANT/KONSULTAN SDM

Baca juga: EX: Employee Experience