Bagi sebagian orang, jabatan menjadi sesuatu yang sangat penting. Bahkan, ada yang enggan bertukar kartu nama hanya karena jabatan di kartu lamanya masih jabatan yang lama, padahal ia sudah dipromosikan menduduki posisi baru yang lebih tinggi.

Sementara itu, dengan organisasi yang berbentuk piramida, pasti hanya sedikit orang yang benar-benar mendapatkan kesempatan mencapai puncak. Bagaimana ketika pangkat tidak bisa naik karena atasan masih berada di posisinya? Apakah ini berarti  kita gagal dalam berkarier?

Situasi bekerja saat ini sebenarnya sudah sangat berbeda. Pandemi telah membuat konsep bekerja pun mengalami perubahan. Orang tidak lagi berpikir bahwa hidup adalah untuk bekerja. Kesehatan, work life balance, menemukan makna juga menjadi prioritas generasi muda sekarang ini.

Bila dulu hampir semua pekerja berharap untuk menjadi karyawan permanen, saat ini dengan pilihan bekerja secara hibrida, individu merasa kesempatan untuk dapat mengeksplorasi minat dan potensi mereka dengan mengerjakan berbagai hal sekaligus, membuat status permanen tidak lagi prioritas. Saat itulah konsep mengenai karier pada diri individu perlahan-lahan juga bergeser.

Jalur karier tidak lagi berbentuk tangga

Bagaimana kita berharap bisa menghadapi dunia yang katanya berubah semakin cepat, semakin kompleks, semakin sulit diramalkan dengan pengalaman yang diperoleh dari jalur karier yang linier?

Kompleksitas tantangan masa depan tentunya juga membutuhkan keterampilan yang semakin komprehensif. Jeff Bezos pernah menjalani karier di bidang komputer di Wall Street dan berbagai posisi di perusahaan keuangan, sebelum ia beralih ke dunia e-commerce dan meluncurkan Amazon.

Michelle Obama sebelum menjadi Ibu Negara pernah berkarier di bidang hukum, menjadi asisten wali kota, di organisasi nonprofit, wakil dekan, dan vice president community and external affairs di RS Universitas Chicago. Sekarang, ia menjadi penulis, pembicara, dan pembawa acara podcast.

JK Rowling bahkan tidak hanya berpindah karier. Ia juga berpindah tempat tinggal. Dari menjadi sekretaris di Amnesty International London, berganti ke Kamar Dagang di Manchester, dan kemudian pindah mengajar bahasa Inggris di Portugal sebelum menerbitkan buku Harry Porter dan menjadi miliarder.

Dari sini, kita melihat bahwa perjalanan hidup tidak sepenuhnya lurus saja. Ada kalanya kita menemui hambatan yang mengharuskan kita berputar arah ataupun ketika kita menemui jalan bercabang yang memberikan kita pilihan untuk mengubah arah. Namun, semua perjalanan itu pasti memberikan kita pengayaan keterampilan dan pengalaman yang semakin memperkaya kompetensi yang kita miliki.

Beragam kegagalan menjadi bahan pelajaran bagi kesuksesan. Progresi karier bagaikan benang kusut yang sering disebut sebagai squiggly career ini, menurut Helen Tupper dan Sarah Ellis memang lebih adaptif untuk menghadapi dunia VUCA. Bagaimana organisasi menghadapi disrupsi karier seperti ini?

LinkedIn menemukan bahwa karyawan akan tiga kali lipat lebih engaged bila perusahaan memberinya kesempatan untuk belajar. Jadi, apa yang bisa kita lakukan agar tidak kehilangan talenta-talenta terbaik yang mencari pengembangan karier yang modern?

Pembelajaran adalah kunci

Tidak disangkal lagi pengembangan karyawan adalah unsur terpenting dari pengembangan organisasi dan inovasi. Namun, pembelajaran di perusahaan sering kali dikalahkan dengan program-program lain yang berkaitan dengan pengembangan bisnis. Bahkan, pelatihan sering masih inkonsisten dijalankan dengan konsep one size fitsall ataupun sesuai selera manajemen puncak.

Padahal, kita semua sadar bahwa dengan disrupsi ini, gaya bekerja kita berubah, prioritas nilai para pekerja pun berubah. Pekerja mencari organisasi yang dapat memenuhi kebutuhan nilai mereka. Purpose over paycheque. Individu perlu untuk dilihat, dihargai, dan didengar.

Seorang karyawan akan happy bila ia menjalankan pekerjaan sesuai passion-nya dan mendapatkan pengakuan atas prestasinya. Organisasi dengan berbagai fungsi menjadi tempat terbaik bagi para profesional untuk berkarya, karena ada berbagai fungsi yang dapat dieksplorasi.

Tidak tertutup kemungkinan seorang salesman dapat berkontribusi di bagian marketing. Seorang insinyur mendapatkan kesempatan mengembangkan bagian SDM, sementara seorang ahli SDM dapat mengeksplorasi kesempatan membangun relasi dengan para pelanggan.

Dengan diberinya kesempatan untuk mencoba dan menjalankan beragam fungsi yang berbeda ini, portofolio keterampilan individu akan menjadi semakin tebal tanpa harus menjadi kutu loncat. Prinsipnya adalah bagaimana organisasi dapat mengidentifikasi kebutuhan pengembangan dan passion masing-masing individu serta menyediakan media pembelajaran dan eksplorasi yang tepat bagi mereka untuk mengembangkan potensinya.

Karier adalah sebuah perjalanan

Organisasi memang perlu memberikan kesempatan pada individu untuk berkembang. Namun, individulah yang sebenarnya memiliki tanggung jawab penuh pada perkembangan dirinya. No one cares about your career as much as you do.

Semakin cepat kita menyadarinya, semakin pesat perkembangan yang bisa kita upayakan. Bayangkan diri kita adalah sebuah produk yang mau dijual. Apa yang bisa membuatnya menjadi rebutan di pasar? Bagaimana mengemasnya sehingga ia tampil memesona? Usaha-usaha apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan nilai jualnya?

Setiap proses pembelajaran yang baik menantang individu untuk keluar dari zona nyamannya, ibarat seekor ulat yang harus berjuang keluar dari kepompongnya sebelum berubah menjadi kupu-kupu yang sehat dan cantik. Ingatlah, career is a journey, not a destination, dan setiap orang memiliki jalannya masing-masing yang bisa saja berbeda satu sama lain.

Ada banyak peran yang bisa kita lakukan dalam pekerjaan kita. Peran kita saat ini bisa jadi adalah sebuah kesempatan belajar bagi peran kita berikutnya. Tantangan yang kita jalani, kekuatan yang kita peroleh darinya, akan selalu menjadi bagian dari diri kita, ke mana pun perjalanan karier kita selanjutnya.

It’s never too late to get started and it’s never too late to change.  So, keep an open mind and take it one step at a time.

Eileen Rachman & Emilia Jakob

EXPERD

HR CONSULTANT/KONSULTAN SDM

Baca juga: Persiapkan Pemimpin Muda Kita