Out of sight, out of mind,” demikian kekhawatiran banyak orang yang memilih bekerja secara remote seperti yang banyak terjadi belakangan ini. Bekerja dari rumah memang memiliki kenyamanan tersendiri dengan waktu yang tidak habis dalam kemacetan jalanan, fleksibilitas mengatur pekerjaan, sampai pada worklife balance karena tetap dapat memantau kondisi domestik di rumah.

Pertanyaannya, bagaimana kita yang lebih banyak bekerja secara remote dapat membangun hubungan yang tetap kuat baik dengan atasan, rekan kerja, maupun para pelanggan sehingga kita tetap dapat menjadi top of mind dan terus mendapatkan kepercayaan mereka?

Sementara itu, mereka yang memiliki dampak besar terhadap karier kita sering kali sudah kewalahan dengan tanggung jawab mereka yang lain sehingga tidak menyadari kontribusi yang kita berikan, kecuali hal tersebut terpampang jelas di depan mata mereka.

Jadi, upaya untuk menunjukkan kontribusi, komitmen, dan engagement kita bagi organisasi memang menjadi keharusan bila kita ingin memperkuat eksistensi di organisasi.

Nilai keterlihatan

Tingkah laku manusia memang banyak terdampak oleh bias-bias kognitif maupun emosional. Tanpa disadari, manusia sering menginterpretasikan dunia secara subyektif sesuai dengan persepsi mereka masing-masing.

Informasi yang sejalan dengan apa yang sudah dipahami akan lebih mudah diterima dibandingkan dengan bukti-bukti baru yang bertentangan. Apalagi bila datang dari mereka yang memiliki latar belakang sama dengan kita. Benar-salah menjadi relatif.

Dari teori primacy and recency effect, kita juga belajar bahwa apa yang dilihat pertama kali (atau baru saja dilihat) cenderung lebih kuat jejaknya dalam ingatan manusia. Artinya, semakin sering kita muncul, semakin besar peluang meninggalkan jejak dalam ingatan para stakeholder kita dan membuat kita menjadi top of mind.

Dalam ilmu sosiologi, kedekatan disinyalir sebagai penentu utama untuk membangun hubungan interpersonal. Hubungan akan lebih baik dengan mereka yang sering ditemui melalui interaksi yang lebih intensif karena membuat mereka lebih mengenal satu sama lain. Jadi, upaya stay in touch memang bermanfaat bagi hubungan interpersonal.

Dari penelitian yang dibuat ASA dan The Harris Poll, 56 persen responden berpendapat bahwa mereka yang hadir 100 persen di kantor lebih mudah mendapatkan kenaikan gaji dan kepangkatan daripada yang bekerja secara remote. Studi yang dilakukan Joblist pun menunjukkan bahwa 95,5 persen karyawan yakin orang yang lebih terlihat mendapatkan kesempatan lebih besar untuk pengembangan karier mereka.

Dari studi juga terlihat bahwa sekitar 38 persen karyawan yang cerdik sudah memiliki visibility strategy agar mereka berada dalam top of mind manajemen walau mereka bekerja jarak jauh. Sebesar 76 persen di antara mereka mengakui bahwa mereka memang berusaha lebih keras untuk “terlihat” dibandingkan ketika mereka bekerja penuh waktu di kantor.

Kenyataannya, para atasan lebih menghargai anak buahnya yang berupaya untuk stay in touch. Di samping itu, mereka yang melakukan usaha ekstra ini biasanya adalah orang-orang yang termotivasi, engaged, dan produktif. Mereka lebih banyak menebarkan energi positif pada lingkungan sekitarnya. Tidak pelak lagi, kita memang harus berada dalam radar pantauan para atasan, terlepas dari mana kita bekerja.

Keberadaan di pantauan radar

Banyak yang merasa enggan untuk menunjukkan dirinya dan hasil karyanya karena merasa hal itu seperti menyombongkan diri, tidak sesuai dengan ilmu padi yang makin berisi makin merunduk.

Bragging atau showboating memang dapat membuat kita menjadi terlihat, tetapi ini justru dapat merusak hubungan kita dengan orang lain. Menjadi terlihat tidak sekadar menonjolkan diri kita, tetapi juga bagaimana menunjukkan dampak dari kontribusi kita terhadap pencapaian target organisasi sehingga hal ini seharusnya semakin meningkatkan kemudahan kita untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak dalam organisasi.

Baca juga: Tidak Selalu Uang

Ada beberapa sikap dan kebiasaan yang perlu kita pelihara sehingga “keterlihatan” kita semakin besar tapi tetap menjaga situasi yang positif.

Pertama, kita perlu memastikan bahkan terus meningkatkan akuntabilitas kita. Pastikan penyelesaian proyek sesuai atau bahkan lebih cepat dari jadwal yang sudah disepakati dengan kualitas seperti yang dijanjikan.

Komunikasikan kepada pihak-pihak terkait berbagai perbaikan yang kita lakukan untuk menjaga kualitas pekerjaan dapat memenuhi kebutuhan organisasi meskipun mungkin hal ini di luar tanggung jawab kita. When you promise something, deliver. When you do complete your work, do it well. When someone is counting on you, be sure you come through. Dengan kualitas sikap kerja seperti ini, kredibilitas kita terbangun dengan sendirinya.

Kedua, tunjukkan keahlian kita. Padi memang menunjukkan isinya dengan merunduk, rajawali dengan terbang tinggi melintas cakrawala. Kita pun perlu memperlihatkan pada dunia keahlian, kapabilitas yang kita miliki. Berbagi pengetahuan, pengalaman melalui sesi-sesi haring, baik internal maupun eksternal organisasi adalah cara yang elegan untuk menunjukkan eksistensi sekaligus kepiawaian diri kita.

Dengan mengajar, kita juga menjadi tertantang untuk terus belajar memperdalam ilmu agar dapat menjawab pertanyaan dari peserta dengan beragam latar belakang. Dalam keseharian pun menunjukkan keahlian dapat dilakukan pada rapat-rapat koordinasi antarbagian, baik dengan berbagi informasi maupun mengajukan pertanyaan yang mengarahkan diskusi menjadi semakin tajam pada solusi yang tepat.

Bagi para introver yang merasa sulit membuka mulut di tengah orang banyak, dapat mengambil peran membuat catatan rapat yang tajam dan terstruktur dan kemudian membagikannya kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Pastikan kita senantiasa menyalakan kamera kita dalam rapat-rapat daring untuk menunjukkan aksesibilitas kita lebih intensif.

Ingat, keterlihatan itu juga autentik. Kita tidak bisa melakukan hal yang sama dan standar dilakukan rekan-rekan lain. Komitmen dedikasi kita perlu diwarnai dengan kesungguhan. Laporkan pada atasan hasil kerja kita dengan standar di luar ekspektasinya dengan best practice yang kita temukan.

 

“Kembangkan visibilitas karena perhatian adalah mata uang.”

Chris Brogan

Eileen Rachman & Emilia Jakob

EXPERD

HR CONSULTANT/KONSULTAN SDM