Intermeso

Asal-usul Nama Daerah di Jakarta

foto simpang sudirman shutterstock. Cari tahu asal-usul nama daerah-daerah di kota Jakarta disini.Shutterstock

Kamu tinggal di seputar Jakarta dan penasaran dengan nama asal-usul nama daerah di Jakarta? Cari tahu disini!

Klik kotamadya yang ingin Kamu cari tahu.

JAKARTA UTARA

JAKARTA TIMUR

JAKARTA SELATAN

JAKARTA BARAT

JAKARTA PUSAT

Kelapa Gading

Nama Kelapa Gading konon diambil dari nama pepohonan kelapa yang tumbuh di daerah itu. Wajar saja, karena Kelapa Gading dekat dengan pesisir dan kala itu pohon kelapa tumbuh di daerah rawa dan kebun warga. Kelapa gading sendiri merupakan varietas dari pohon kelapa yang berciri terlalu tinggi, batangnya sedang, dan buahnya relatif kecil berwarna kuning gading. Saat ini, pepohonan kelapa gading itu masih dipertahankan.

Marunda

Marunda dikabarkan berumur lebih tua dari Kota Jakarta sendiri. Ada banyak versi asal-usul kenapa dinamakan Marunda. Versi pertama, berdasarkan keterangan tokoh masyarakat, marunda berarti merendah. Penduduk di situ dikabarkan punya sifat rendah hati karena berusaha mengikuti ajaran agama. Versi kedua, marunda berasal dari kata “merundak” atau “merendah” karena topografi wilayah di sana berundak-undak.

Pluit

Pada 1903, tempat ini bernama Fluit Muarabaru. Nama Pluit diambil dari kata fluit, lengkapnya fluitship yang berarti kapal layar panjang berlunas ramping. Menurut sejarah, daerah ini pada 1660 di sebelah timur muara Kali Angke ada sebuah fluitship bernama Het Witte Paert yang sudah tidak lagi berlayar. Kapal ini digunakan Belanda sebagai pertahanan perang dari serangan sporadis Kesultanan Banten. Kubu ini disebut De Fluit. Karena susah dilafalkan oleh orang lokal, huruf “f” berganti menjadi “p”.

Ancol

Ancol berarti tanah yang menjorok ke laut atau tanjung. Berawal dari pembangunan rumah peristirahatan milik Gubernur Jenderal Hindia Belanda Adriaan Valckenier, Ancol berkembang menjadi tempat wisata. Sebelumnya, Ancol berisi hutan bakau dan tambak ikan. Pada akhir Desember 1965, Soekarno memerintahkan Gubernur Jakarta Soemarno membangun Ancol sebagai kawasan wisata. Status itu berlangsung hingga kini.

Cilincing

Cilincing berasal dari kata “Ci” yang berarti aliran air dan nama pohon sejenis belimbing wuluh yang banyak tumbuh di situ. Pohon ini banyak tumbuh di tepi sungai itu. Karena itu, banyak orang dulu menyebut kawasan itu bernama Cilincing.

Kebon Bawang

Kawasan yang dekat dengan Tanjung Priok ini juga punya andil dalam perdagangan rempah-rempah, terutama bawang. Saking banyaknya tanaman bawang, warga setempat menyebutnya Kebon Bawang. Hasil bawang di sini, bersama dengan bawang dari daerah lain, pada zaman kolonial Belanda juga dikirimkan ke berbagai pulau dan antarnegara.

Koja

Ada dua cerita tentang Koja. Pertama, nama Koja diambil karena di masa lalu, banyak tumbuh pohon koja. Pohon ini tumbuh liar, tetapi juga ada yang dibudidayakan oleh warga. Kedua, di daerah ini banyak bermukim orang India dari daerah Khoja. Orang Khoja diyakini dulu berdagang ke Batavia dan menetap secara turun temurun.

Pademangan

Nama Pademangan konon berasal dari banyaknya orang-orang berpangkat Demang, atau dalam istilah Belanda yaitu Mayor. Banyak peneliti melihat, Pademangan berasal dari kata per-demangan-an. Demang itu biasanya berpakaian seperti pakaian pria betawi sekarang, berwarna hitam dan berbentuk seperti baju koko, tapi dengan kerah.

Papanggo

Kelurahan ini tidak terlalu terkenal, tapi berada di dalam Kecamatan Tanjung Priok. Peneliti memperkirakan, nama Papanggo berasal dari banyaknya laskar bayaran Hindia Belanda, yaitu orang daerah Papangga di Luzon, Filipina yang berdiam di situ. Mereka didatangkan untuk memperkuat koloni Belanda yang hendak menguasai tanah Batavia. Orang menyebut mereka De Papangers.

Cawang

Nama Cawang berasal dari kata enci Awang (diduga kata Awang berasal dari kata Anwar). Cerita singkatnya, Awang yang merupakan Letnan Melayu ini bermukim di daerah Kampung Melayu itu bersama kaptennya Wan Abdul Bagus. Sebenarnya tidak ada cerita jelas kenapa akhirnya nama Enci Awang berubah menjadi Cawang.

Cijantung

Nama Cijantung berasal dari nama anak sungai Ciliwung yang berhulu di Areman, dekat Kelapadua sekarang. Tak ada cerita pasti, kenapa ada nama “jantung”. Namun, kata “ci” memang terasosiasi dengan air. Pada pertengahan abad ke-17, kawasan ini sudah berpenghuni. Diperkirakan, seorang bernama Camelis Senen membuka kawasan yang dulunya hutan belantara ini. Sekarang, Cijantung terkenal sebagai markas besar Kopassus.

Pulo Gadung

Pulo Gadung sebenarnya baru dibentuk pada 1956. Daerah ini memang sudah terkenal sebagai sentra pembuatan perabot rumah tangga. Pada 1970-an, kawasan ini berubah menjadi pusat industri dan terkenal karena terminal bus antarkotanya. Nama Pulo Gadung berasal dari jenis umbi-umbian yang pada masa lalu banyak tumbuh di daerah ini. Umbi ini bernama gadung.

Ciganjur

Menurut sejarah, nama Ciganjur sudah ada sejak 1650. Diperkirakan nama ini berasal dari nama kerajaan atau Kadipaten Ciganjur. Cerita lain, Ciganjur berasal dari kata “genjur”, sebuah alat penanda datangnya waktu shalat. Genjur biasanya ditabuh, serupa gamelan dengan gong tetapi lebih kecil. Ada cerita lain lagi, nama Ciganjur berasal karena keberadaan “Kaum Ganjuran”. Ganjuran sendiri adalah sejenis pohon jati yang banyak tumbuh di sekitar wilayah Jagakarsa.

Kalibata

Nama kabarnya berasal dari sebuah sungai penuh dengan bebatuan, termasuk batu bata. Nama ini muncul karena orang masa lalu kerap menyebut tempat ini dengan sebutan kali bata, kali yang penuh dengan batu bata. Sekarang, Kalibata lebih terkenal dengan apartemen, mal, dan taman makam pahlawan.

Pancoran

Kata Pancoran dikabarkan berasal dari kata “pancuran”. Pada abad ke-16, penguasa Hindia Belanda memang membangun beberapa waduk tempat penampungan air dari kali Ciliwung, yang dilengkapi dengan dua buah pancuran setinggi kurang lebih 10 kaki. Kini, Pancoran lebih terkenal dengan pusat perkantoran dengan patungnya yang ikonis, yaitu Patung Dirgantara.

Kemang

Nama Kemang diambil dari pohon kemang (Mangifera caesia) yang banyak tumbuh di kawasan tersebut pada zaman dahulu. Transformasi Kemang dari area persawahan, rawa, dan perkebunan menjadi salah satu kawasan hype Jakarta tak lepas dari kisah almarhum Bob Sadino. Pendiri Kem Chicks ini mengawali usahanya dengan berdagang telur dan ayam negeri kepada ekspatriat yang banyak tinggal di situ.

Lebak Bulus

Daerah sangat terkenal dulu sebagai terminal bis dan angkutan umum walaupun sekarang menjadi hub dan stasiun utama MRT di Jakarta. Nama Lebak Bulus sendiri berasal dari kata lebak yang berarti “lembah” dan bulus yang berarti “kura-kura”. Dulu, kontur tanah di sini memang tidak rata sehingga ada beberapa lembah kecil. Selain itu, ada dua sungai yang mengalir dan banyak kura-kura di sini.

Senayan

Nama “senayan” berasal dari kata Wangsanajan, jika mengacu pada Topographische Bureau, Batavia 1902. Wangsanajan berarti tanah tempat tinggal atau tanah milik seseorang bernama Wangsanayan. Namun, karena masyarakat lebih mudah melafalkan nama itu menjadi Senayan, hingga sekarang nama tempat kawasan GBK itu tetap sama. Wangsanayan diperkirakan nama orang dari Bali, berpangkat Letnan yang lahir pada 1680 dan tinggal di Batavia.

Glodok

Tempat yang terkenal sebagai pusat perdagangan ini menurut sejarah berasal dari kata grojok. Pada zaman penjajahan, konon ada pancuran besar yang kalau hujan keluar air dengan bunyi grojok. Oleh warga sekitar, termasuk orang Tionghoa, bunyi air itu diucapkan menjadi glodok.

Kebon Jeruk

Kebon Jeruk muncul karena dulu di daerah ini banyak sekali pohon jeruk. Kebun-kebun ini dimiliki oleh warga Betawi. Jenis jeruknya pun beragam, mulai dari sunkis, limau, purut, sampai bali. Dulu, hasil kebun itu akan dibagikan ke tetangga, selain dijual ke pasar dan dikonsumsi pribadi. Pohon jeruk ini diperkirakan warisan dari penjajah Belanda. Sayangnya, kebun jeruk di sini sudah hilang digantikan gedung komersial dan perumahan.

Palmerah

Sejatinya, nama Palmerah dilafalkan terpisah, yaitu Pal Merah. Nama Pal Merah berasal dari kata pal yang berarti “patok” berwarna merah. Menurut sejarah, patok ini dijadikan batas wilayah kota Batavia ke arah Bogor. Dulu, setiap Gubernur Belanda hendak ke Istana Bogor pasti melewati jalur ini. Dan, mereka biasanya mengistirahatkan kudanya di daerah Pos Pengumben.

Tangki

Terletak di Kecamatan Tamansari, Kelurahan Tangki diperkirakan sudah ada sejak 1823. Nama ini diambil dari kata tangsi, barak militer tentara Belanda. Perubahan huruf dan ejaan baru terlihat pada 1914. Pada saat itu, ejaan kampung ditulis dengan “Tanki”. Berselang 9 tahun, diubah menjadi Tangki. Nama Tangki sempat populer dengan sebutan Tangkiwood karena banyak artis, di antaranya Laila Sari dan Tan Tjeng Bok, yang tinggal di kawasan ini pada 1950-an.

Rawa Belong

Nama pertigaan ini diambil dari nama lokasi dekat kubur batu Kampung Srengseng, Jakarta Barat, yaitu Rawa Balong. Ceritanya, seorang anggota korps polisi militer pada masa pemerintahan Hindia Belanda menyebut nama Rawa Balong sebagai Rawa Blong. Warga yang mendengarnya lalu menyebut dengan pertigaan Rawa Belong yang kini tenar karena pasar ikan bandeng yang ramai menjelang Imlek dan Pasar Bunga Rawa Belong.

Angke

Nama Angke berawal dari bahasa China, “ang” dan “ke” yang berarti bangkai. Nama ini menjadi populer karena pada 1740 terjadi pembantaian orang China oleh Belanda. Banyak mayat dihanyutkan ke kali dan airnya menjadi merah darah. Kali itu, terutama oleh orang China, kemudian disebut Kali Angke yang populer hingga sekarang. Daerah tempat sungai itu mengalir akhirnya juga disebut daerah Angke.

Menteng

Nama Menteng muncul karena di kawasan itu dulunya adalah hutan dengan mayoritas tumbuh pohon buah menteng. Pada masa lalu, orang menyebut kawasan itu kampung menteng. Kawasan ini mulai menjadi “premium” kala Pemerintah Belanda sekitar 1912 menjadikan daerah ini sebagai lokasi perumahan pegawai pemerintahan Hindia Belanda. Tak heran, hingga kini banyak rumah mewah dan megah di Menteng.

Karet Tengsin

Namanya cukup unik. Karet Tengsin berasal dari cerita seorang China yang kaya raya dan baik hati, bernama Tan Teng Sien. Karena kebaikan hatinya, Tan Teng Sien sangat terkenal. Diperkirakan, karena di tempat tinggal Teng Sien banyak pohon karet, daerah itu dikenal sebagai Karet Tengsin.

Desain:
Yovieta Budidarman

Penulis:
Benedictus Yurivito

Developer:
Dimitri Herlambang

Tags : featured
Dimitri
Desainer, pengembang, dan administrator web di bagian Produksi divisi Iklan Harian Kompas.

Leave a Response