Layar Perak review film alpha

Published on October 10th, 2018 | by Kompas Klasika

0

Alpha (2018): Persahabatan yang Mengubah Kemanusiaan

Sebelum masehi, manusia hanya mengenal kerja sama dengan sesama manusia. Sisa penghuni bumi lainnya dianggap sebagai makanan atau musuh.

Puluhan ribu tahun lalu, saat manusia mulai hidup berkelompok dan berburu untuk bertahan hidup, kebutuhan akan kekuatan dan kekompakan semakin tinggi. Manusia mulai mengelompokkan diri sesuai gender: perempuan meramu makanan dan laki-laki pergi berburu.

Dunia yang masih sangat luas dan penuh misteri membuat manusia hanya mau percaya kepada sesamanya. Hewan, yang juga ada di sekitar mereka, dianggap sebagai makanan atau musuh yang harus diperangi—lagi-lagi untuk bertahan hidup.

Alam yang begitu liar membuat manusia terus mencari cara untuk bertahan hidup, termasuk dari hewan-hewan buas, seperti singa, coyote, atau serigala. Lalu, bagaimana ceritanya hingga manusia bisa berteman dengan anjing?

Foto-foto dokumen Sony Pictures Releasing

Beragam penelitian dilakukan untuk memecahkan misteri hubungan mesra antara manusia dan anjing. History.com menjabarkan bahwa terdapat temuan makam anjing yang diperkirakan berusia 10.000 tahun lalu di wilayah Siberia.

Anjing-anjing itu diyakini telah menjadi peliharaan manusia karena ditemukan pula sejenis mainan di dalam makam anjing tersebut. Ada pula yang dikubur dalam kondisi mengenakan kalung berhiaskan gigi rusa, bahkan ada pula yang dikubur bersama majikannya.

Diangkat ke layar lebar

September lalu, Sony Pictures Releasing merilis film sejarah tentang hubungan manusia dan anjing. Alpha menjadi oase yang menyejukkan, menyajikan untaian adegan penuh perjuangan untuk bertahan hidup dan nilai-nilai persahabatan yang kental.

Film ini mengangkat latar waktu sekitar 20.000 tahun lalu di Eropa. Keda (Kodi Smit-McPhee), anak dari kepala suku Tau (Johannes Haukur Johannesson) siap untuk perburuan pertamanya bersama laki-laki terpilih lainnya. Mereka meninggalkan desa sejauh puluhan kilometer mencari hewan perburuan untuk dibawa pulang. Saat sedang menyerang sekelompok bison, Keda tertanduk bison dan terlempar ke jurang. Dikira meninggal, kelompoknya berduka sesaat kemudian meninggalkannya.

Walau terluka parah, Keda berhasil selamat. Belum memiliki insting bertahan hidup sama sekali, Keda harus mencari cara untuk selamat dan melewati tiap malam tanpa dimangsa hewan buas. Ketika diserang sekelompok serigala, Keda berhasil melukai salah satu serigala. Tak tega untuk membunuhnya, Keda justru membopong serigala tersebut dan merawatnya.

Mereka menghabiskan hari-hari bersama selama menyembuhkan luka masing-masing. Ketika Keda mau meninggalkan serigala tersebut dan melanjutkan perjalanan pulang, si hewan justru mengikutinya terus. Keda pun memberinya nama Alpha.

Keda dan Alpha melewati pa­nasnya siang dan dinginnya malam, berburu bersama, dan saling berbagi makanan. Rasa kasih terbangun di antara keduanya, membuat mereka saling melindungi satu sama lain, termasuk di saat terberat sekalipun.

Cerita yang hangat

Film ini memberikan kehangatan di hati setiap orang yang menontonnya. Hubungan unik antara manusia dan anjing memang selalu menarik untuk disimak, apalagi film ini juga diangkat dari kisah historis. Alpha memberikan gambaran tentang asal-usul pertemanan manusia dan anjing, dan seberapa jauh anjing membantu manusia primitif dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Walaupun dialog di film ini tidak menggunakan bahasa Inggris sama sekali dari awal hingga akhir, tidak membuat penonton urung merampungkan tontonannya. Film ini mirip dengan kisah tentang kasih kepada hewan, seperti Marley and Me dan Hachiko, yang akan meninggalkan jejak haru di hati penonton. [DLN]

Sutradara:
Albert Hughes

Skenario:
Albert Hughes

Pemain:
Kodi Smit-McPhee,Johannes Haukur Johannesson

Rilisan:
Amerika

Tayang Perdana:
September 2018

 

Artikel ini terbit di harian Kompas edisi 6 Oktober 2018.

Tags:


About the Author



Leave a Reply

Back to Top ↑